Awas, Taktik Biro Umrah Abal-abal Raih Untung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jutaan umat muslim bergerak menuju Mina usai bermalam (mabit) di Musdalifah, Mekkah, Arab Saudi, Minggu (6/11) dini hari. Jutaan calon haji bergerak ke Mina untuk melempar jumroh . ANTARA/Prasetyo Utomo

    Jutaan umat muslim bergerak menuju Mina usai bermalam (mabit) di Musdalifah, Mekkah, Arab Saudi, Minggu (6/11) dini hari. Jutaan calon haji bergerak ke Mina untuk melempar jumroh . ANTARA/Prasetyo Utomo

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah biro perjalanan haji dan umrah abal-abal melakukan sejumlah trik untuk meraup untung. Mereka bahkan tega menelantarkan hingga membawa kabur uang jemaah. Namun ada juga perusahaan yang meraup laba dengan cara yang halal.

    Dari seorang jemaah yang mereka berangkatkan, perusahaan bisa mengutip duit hingga Rp 3,4 juta per orang. Kendati fulus untungnya seolah kecil, namun bila dikalikan dengan jumlah orang per rombongan, angkanya bisa melesat fantastis.

    Seperti dilansir Majalah Tempo dalam tulisan Fulus Pengantar ke Rumah Tuhan, anggota staf di perusahaan penyelenggara umrah menyatakan bisa punya keuntungan Rp 2,3 juta per jemaah. Angka tersebut didapat dari potongan harga tiket dan hotel.

    Untuk mendapatkan untung besar, perusahaan memilih maskapai dengan rute penerbangan tak langsung menuju Jeddah, Arab Saudi. "Misalnya dengan memakai Business Air yang harus ke Bangkok dulu atau Air India," ujarnya. Margin keuntungan didapat per orang bisa mencapai US$ 50 atau sekitar Rp 550 ribu. (Baca: Berikut Detil Biaya Wajar Umrah)

    Dari hitung-hitungan semacam itu, dengan estimasi satu kelompok terbang 40-50 jemaah, sebuah perusahaan bisa mendapat untung Rp 115 juta. Dalam sebulan, perusahaan penyelenggara umrah kelas kecil bisa memberangkatkan dua-tiga kelompok terbang. "Jadi sebulan keuntungannya Rp 300 juta," ujarnya.

    Tergiur untung dari pasar besar ini, banyak perusahaan biro umrah abal-abal menipu calon jemaahnya. Modusnya biasanya menjanjikan tiket bintang lima, tapi yang didapat di lokasi hanyalah tiket bintang tiga.

    Yang lebih parah, banyak perusahaan menjanjikan jemaah untuk pergi berumrah dalam rentang waktu yang lama. Mereka diminta untuk membayar uang muka, biasanya sebesar Rp 3,5 juta. Bila uang satu rombongan telah terkumpul lengkap, pelaku kabur. Perusahaan pun tak bisa lagi terlacak. (Baca: Daftar Biro Haji dan Umroh Abal-abal)

    "Itu bentuk kriminal murni, kami laporkan ke polisi kalau ada kasus penipuan," ujar Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Anggito Abimanyu pada Majalah Tempo, edisi pekan ini, 24-30 Maret 2014. Ia menyatakan siap mengawasi travel umrah resmi agar tidak melakukan hal-hal seperti itu. "Kami akan evaluasi, jaminan bank (untuk travel resmi) sebesar Rp 150 juta akan ditingkatkan atau tidak, lalu akan ada standardisasi pembimbing dan tenaga kesehatan," ujarnya.



    MAJALAH TEMPO | ANDI PERDANA

    Topik terhangat:
    MH370 | Kampanye 2014 | Jokowi | Prabowo | Dokter TNI AU

    Berita terpopuler lainnya:
    Terdeteksi 122 Obyek, Puing MH370?
    7 Media Ini Dituding Berpihak dan Tendensius
    Abraham Samad Bingung, Bisakah KPK Periksa SBY?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.