Jadi Guru Besar, Calon Hakim MK Ini Tak Tahu Ultra Petita  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • therecycler.com

    therecycler.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seleksi hakim konstitusi dengan menghadirkan sebanyak delapan tokoh masyarakat dan pakar hukum rupanya membuat banyak peserta keder.  Seorang calon hakim MK, Muhammad Agus Santoso bahkan menjawab tidak pernah mendengar apa yang dimaksud dengan ultra petita.

    "Kamu pernah dengar ultra petita?" tanya salah satu tim pakar Ahmad Syarifudin Natabaya saat uji kelayakan dan kepatutan di kompleks parlemen, Senayan, Selasa, 4 Maret 2014. Pertanyaan tajam dari tim pakar membuat Agus gugup.

    Agus Santoso terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan ini. Tak berapa lama, dia menjawab pelan, "Belum pernah dengar." Agus merupakan guru besar sekaligus dosen Fakultas Hukum Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda. "Saya tahu ingat dengan petitum," kata dia. (baca: Calon Hakim MK: Mobil Saya Tidak Lima, Cuma Empat....)

    Tak pelak jawaban Agus membuat Natabaya geleng-geleng kepala. Secara sederhana, Natabaya menjelaskan makna ultra petita. Ultra, kata dia, berarti lebih sedangkan petita berarti permohonan. "Jadi ultra itu bukan susu," kata Natabaya merujuk produk susu terkenal. Ucapan Natabaya mengundang tawa semua yang hadir. (baca: Calon Hakim MK Aswanto Janji Tak Seperti Akil). Dalam khazanah hukum, ultra petita merujuk pada putusan hakim atas perkara yang tidak dituntut atau melebihi dari yang dituntut.

    Saat ditanya mengenai motivasi menjadi calon hakim MK, Agus menjawab bahwa dia terpanggil melihat citra Mahkamah. Sejak tertangkapnya Akil Mochtar, dia menilai martabat MK sudah terpuruk. Agus di depan tim pakar mengaku terpanggil untuk mengembalikan martabat MK. Dari sisi finansial, Agus mengaku sudah merasa cukup. "Pemerintah sudah memberikan sertifikasi," kata dia.

    WAYAN AGUS PURNOMO

    Berita terkait
    Calon Hakim Konstitusi Ini Punya 11 Gelar Akademis
    Calon Hakim MK Dicecar Soal Jam Tidur
    Gagal Seleksi KPK, Franz Nekat Ikut Tes Hakim MK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.