Penemuan Alat Sadap di Rumah Jokowi 3 Bulan Lalu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jokowi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Jokowi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Tubagus Hasanuddin, mengatakan penemuan alat sadap di rumah dinas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sudah cukup lama. "Dua atau tiga bulan lalu," kata Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR itu kepada wartawan di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2014.

    Saat ditanya proses pencarian dan penemuan alat sadap tersebut, Tubagus bungkam. Dia hanya mengatakan alat sadap itu ditemukan di dalam rumah, tempat Jokowi beraktifitas. Meski tak memberikan gambaran rinci bentuk alat sadap tersebut, tapi purnawirawan mayor jenderal itu mengatakan alat penguping itu tak terlalu besar. (baca: Alat Sadap Jokowi Buatan Luar Negeri)

    Alat sadap itu bertenaga listrik dan mampu menangkap seluruh aktivitas suara dalam radius tertentu. "Lalu ada pemancarnya, jadi suara yang ditangkap dipancarkan ke pihak yang berkepentingan itu," kata Tubagus.

    Dia juga mengaku tak tahu siapa pihak dibalik alat sadap tersebut. Ketika disinggung berkaitan dengan polemik pencalonan presiden Joko Widodo, Tubagus kembali tutup mulut. Menurut dia, hanya pihak penyadaplah yang tahu informasi apa yang diinginkan dari Joko Widodo.

    "Saya rasa penyadap mencatat semua informasi, tapi nanti mereka pilah-pilah sendiri mana yang penting," katanya. (Baca: Menjelang Pemilu, Rumah Dinas Jokowi Disadap).

    Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa rumah dinas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di kawasan Taman Surapati sempat disadap. Jokowi, kata Tjahjo, sempat bercerita kepada PDIP beberapa waktu lalu. "Saat kami operasi, di rumah Jokowi ada tiga alat penyadap yang diletakkan di tempat tidur, ruang tamu, dan tempat makan," kata Tjahjo. 

    INDRA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.