Senin, 19 November 2018

Digempur Lobi Jalur ITS dan Sogokan, Surutkah Risma?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tri Rismaharini. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Tri Rismaharini. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, JakartaMemimpin Surabaya sejak 2010 menggantikan Bambang D.H., Wali Kota Tri Rismaharini menolak proyek jalan tol yang semula disetujui pendahulunya. Malah, proyek senilai Rp 9,2 triliun itu sudah ditenderkan dan dimenangi PT Margaraya Jawa Tol. baca:Wali Kota Risma dan Serangan Bertubi Soal Tol)

    Risma berkukuh menolak proyek jalan bebas hambatan sepanjang 25 kilometer itu. Salah satu alasannya, “Kalau masyarakat bisa memakai jalan gratis, mengapa harus membayar?” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 12 Februari 2014 lalu.

    Majalah Tempo dalam edisi #SaveRisma: Siapa Menggasak Surya-1 pekan ini menulis, meski memenangi proyek tol yang dirancang sejak 2006, PT Margaraya Jawa Tol gagal memenuhi proyek karena kesulitan dana. Di akhir pemerintahan Bambang D.H., Margaraya akhirnya membentuk konsorsium pendanaan bersama PT Jasa Marga, PT Duta Graha Indah, PT Pembangunan Perumahan, dan PT Elnusa. Mereka menyatakan siap memulai pembangunan.

    Namun, semuanya buyar karena Risma tetap berkukuh menolak proyek yang dianggapnya tak diperlukan warga Surabaya itu. Itu juga membuat Risma bersimpang jalan dengan Bambang D.H., pendahulunya yang kemudian menjadi wakilnya.

    Dari hasil penelusuran edisi Majalah Tempo, ada lobi-lobi oleh pengusaha yang dilancarkan untuk melunakkan sikap Risma.  Salah satunya menggunakan “jalur ITS”--Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, tempat Risma dulu kuliah.

    Direktur PT Duta Graha Indah, Dudung Purwadi, yang juga lulusan perguruan tinggi itu, dikirim buat menemui Hendro Gunawan, alumnus Teknik Sipil ITS, yang dulu menduduki kursi Ketua Badan Pembangunan Daerah Surabaya.

    Hendro, yang kini menjadi Sekretaris Kota Surabaya, itu menceritakan Dudung datang untuk minta tolong agar proyek jalan tol dilanjutkan. Namun, tamunya itu menyorongkan amplop tebal. Hendro menolak.

    Melalui jalur lain, konsorsium ini berusaha menemui Risma untuk menyerahkan Rp 8 miliar. Namun, Risma tak bergeming. “Saya tak pernah saya izinkan dia masuk ruangan saya,” ucap Risma kepada Tempo pada Selasa pekan lalu.

    Digempur kiri dan kanan, Risma mengajak Hendro melaporkan kasus ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Lembaga ini menurunkan tim ke Surabaya. Penyadapan pun dilakukan. Buntutnya, penyelidik malah mendapat temuan yang lebih kakap: penyuapan dan korupsi proyek Wisma Atlet SEA Games XXVI Palembang, yang juga melibatkan Duta Graha Indah. (baca: Wali Kota Risma Didesak Mundur karena Tolak Tol?)

    Dudung Purwadi, yang kini menjabat Direktur Utama Duta Graha Indah, membantah berusaha menyuap Risma dan anggota stafnya. “Sepanjang yang saya ketahui, semuanya tidak benar,” katanya melalui surat elektronik kepada Tempo.

    BUDI S | AGUS SUP | DEWI SUCI R | AGITA | EDWIN F | KUKUH SW

    Berita terkait
    Wali Kota Risma dan Serangan Bertubi Soal Tol  

    Baru Ketemu Risma, Whisnu Sudah Cerita Proyek
    Curhat Wali Kota Risma kepada Elite PDIP
    PDIP: Ada yang Mengadu Domba dalam Kasus Risma

    Wali Kota Risma dan Kisah Anak Tukang Semir Sepatu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.