Jumat, 16 November 2018

Damardjati Berkisah Sukarno, Susu dan Dada  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prof Dr Damardjati Supadjar, guru besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. TEMPO/Anang Zakaria

    Prof Dr Damardjati Supadjar, guru besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. TEMPO/Anang Zakaria

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Guru besar Filsafat Universitas Gadjah Mada, Damardjati Supadjar, menyatakan Presiden Sukarno merupakan pemimpin yang punya kesadaran tentang tubuh dan jiwa yang sehat secara utuh. Melalui susu, Presiden RI pertama itu menginginkan bayi-bayi Indonesia tumbuh sehat dan kuat. Jadi, diharapkan jiwa-jiwa manusia Indonesia akhirnya bisa sehat dan kuat pula.

    Betapa pentingnya susu sebagai makanan dan pemenuh gizi juga terungkap dalam ajaran Islam. Ia mengatakan ketika Nabi Muhammad meminum susu, doa yang terucap adalah alhamdulillah. Ya Allah, semoga engkau menambah jumlahnya. “Kesimpulannya, Susu adalah makanan yang paling fitri,” kata Damarjati.

    Ia menyatakan ini dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan Tempo Institute bekerja sama dengan Sari Husada di restoran Omah Duwur, Kotagede, Yogyakarta, 11 September 2013. Damardjati wafat Senin, 17 Februari 2014, pukul 17.00 WIB dan dimakamkan Selasa siang, 18 Februari 2014. (baca:Saat Terakhir, Guru Besar UGM Ini Sebut Bung Karno)

    Ayah Damarjati adalah Yosodipuro, yang pernah menjadi Lurah Losari, Kecamatan Grabak, Magelang. Adapun eyangnya, Wiropati, adalah seorang prajurit Pangeran Diponegoro. Sebelum bergabung dengan pasukan Diponegoro, Wiropati adalah seorang berandal.

    Dengan latar belakang itu, Damarjati pun tumbuh dalam ajaran adat istiadat Jawa yang kental. Cerita-cerita tentang keampuhan pusaka Keraton Yogyakarta, keris Kiai Kopeng (atau Kopek), sudah didengar sejak belia. Namun belakangan ketika sudah dewasa, ia baru sadar. Pusaka itu tak sekadar bentuk fisik keris belaka. “Namun juga tentang ajaran filosofis bagaimana sebuah karakter dan kepribadian seorang manusia dibangun sejak dini,” katanya. (baca: Damardjati: Mensana Incorpore Sano Salah Kaprah)

    Ceritanya, dari pengamatannya, bagaimana seorang ibu mendekap bayi dan menyusuinya. Selama proses menyusui itu, bayi itu tenang dan nyaman. Ia menilai perasaan nyaman dan tenang itu diperoleh bukan semata-mata si jabang bayi mendapatkan kebutuhan susunya, tapi juga ada proses hubungan batin antara ibu dan anak yang berlangsung selama proses itu.

    Maka tak heran pula, kata dia, ketika proses menyusui dilakukan, seorang ibu dianjurkan untuk menjaga sopan santun, etika, dan tenang. Hal itu dimaksudkan agar sikap dan karakter itu juga turut terwarisi bayinya bersamaan dengan mengalirnya air susu. “Itulah kenapa pusaka itu dinamai Kiai Kopeng (payudara),” katanya.

    ANANG ZAKARIA

    Berita terkait
    Guru Besar Filsafat UGM Damardjati Supadjar Wafat 
    Damardjati Supadjar, Peletak Dasar Filsafat Jawa 
    Rektor UGM Melepas Damardjati Supadjar


     

     

    Lihat Juga