Selasa, 13 November 2018

Warga Singapura Tak Persoalkan Kapal Usman-Harun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, 1973. Pada kunjungan tersebut, Lee Kuan Yew menaburkan bunga ke makam Usman dan Harun. Dok. TEMPO/Syahrir Wahab

    Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, 1973. Pada kunjungan tersebut, Lee Kuan Yew menaburkan bunga ke makam Usman dan Harun. Dok. TEMPO/Syahrir Wahab

    TEMPO.CO , Singapura - Memanasnya hubungan bilateral antara Pemerintah Singapura dengan Pemerintah Indonesia akibat kapal perang Angkatan Laut yang bernama Usman-Harun begitu menyita perhatian publik Tanah Air. Namun kondisi sebaliknya di Singapura, yang warganya yang tidak tahu menahu tentang hal tersebut.


    Seperti yang diungkapkan Tan Tee Yunus, 58 tahun, ia menyatakan tidak pernah mendengar kabar terkait kapal Usman-Harun itu. Bahkan dia pun hampir lupa bahwa pernah terjadi ledakan bom di gedung MacDonalds House di Orchard Road, Singapura. "Memang dulu ada, tetapi saya baru ingat lagi setelah mendengar hal itu dari anda," kata pria tersebut saat ditemui di Bugis Street, Singapura, Jumat malam, 14 Februari 20114. (baca:Tjokropranolo Temui Usman-Harun Sebelum Digantung)


    Sertu Usman dan Kopko Harun adalah anggota Korps Komando Angkatan Laut yang dijatuhi hukuman mati karena aksi pengeboman yang dilakukan keduanya di MacDonald House Orchard Road pada Maret 1965. Dalam pengeboman di kompleks perkantoran di pusat kota itu, tiga orang menjadi korban.


    Kisah mereka kembali mencuat setelah Pemerintah Singapura melayangkan surat ke Indonesia karena penamaan kapal perang Usman Harun. Mereka meminta agar nama tersebut tidak disematkan ke kapal perang Indonesia lantaran melukai publik di Singpara. (baca: Bagaimana Upaya Terakhir RI Bebaskan Usman-Harun?)


    Menurut Yunus, warga Singapura cepat melupakan sejarah karena semua tempat yang dulu menyimpan banyak cerita masa lalu cepat terganti dengan bangunan baru. Menurutnya, tidak ada alasan bagi masyarakat Singapura membenci maupun terlukai akibat penamaan kapal perang Indonesia tersebut. "Orang Singapura itu baik-baik, tidak ada yang suka masalah," ucap pria setengah baya tersebut.


    Hal senada yang diungkapkan Looh Kin Seak, warga Singapura lainnya. Pria 68 tahun itu mengaku sempat menyaksikan sisa-sisa peristiwa tersebut. "Waktu itu saya mendengar kabar bom dan langsung datang melihatnya," ujar dia, tampak ogah mengisahkan bagaimana suasana setelah pegeboman yang mencekam tersebut.


    Ia hanya menyatakan kondisi gedung MacDonalds saat itu belum dikepung bangunan seperti sekarang. Ia juga mengingat kejadian itu di zaman pemerintahan Soekarno-Hatta, tetapi lupa siapa pelaku pengeboman. Begitu juga dengan memanasnya hubungan negaranya dengan Indonesia akibat nama pelaku pengeboman tersebut. "Yang saya tahu Soekarno pernah datang ke sini dengan pidato yang keras, tetapi saya melihat dia senang dengan orang Cina," ujarnya tersenyum.

    TRI SUHARMAN

    Terkait:
    Singapura: Marinir Pembunuh Tak Harus Dihormati

    Jokowi: Jalan Usman Harun Ditetapkan Mei 2013

    Singapura Tetap Minta Nama KRI Usman Harun Diganti

    Trauma Usman Harun Sudah Ditutup 40 Tahun Lalu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Ayah, Diprakarsai Bukan oleh Para Bapak

    Setiap tanggal 12 November kita memperingati Hari Ayah yang ternyata diprakarsai bukan oleh para bapak tapi oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi.