Cara Imigran Usiran Australia Bertahan Hidup

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas membuka pintu samping sekoci penyelamat berwarna oranye di Pantai Timur Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat (7/2). Australia memulangkan imigran gelap yang ditangkapnya ke wilayah Indonesia dengan sekoci ini.  TEMPO/Prima Mulia

    Petugas membuka pintu samping sekoci penyelamat berwarna oranye di Pantai Timur Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat (7/2). Australia memulangkan imigran gelap yang ditangkapnya ke wilayah Indonesia dengan sekoci ini. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Tasikmalaya - Para imigran gelap asal Iran, Nepal, Banglades, dan Pakistan yang terdampar di perairan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, sekitar 10 hari terkatung-katung di lautan. Selama itu pula mereka bertahan hidup dengan makan mi instan, kopi, cokelat, dan air mineral.

    Perjalanan mereka berawal pada 26 Januari 2014. Mereka berangkat dari wilayah Cisarua, Bogor, menuju sebuah pantai di wilayah Pantai Selatan Jawa. "Sebelum berlayar, nakhoda kapal membeli mi instan, air mineral, rokok dan kopi," kata Narran, imigran gelap asal Nepal, saat ditemui di tempat penampungan sementara di Hotel Linggajaya, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat, 7 Februari 2014. (Baca juga: Imigran Usiran Australia Terkatung di Laut 10 Hari)

    Makanan-makanan tersebut merupakan hidangan setia para imigran selama berlayar. Jika membuat kopi, mereka menyeduhnya dengan air mineral. Begitu pula mi instan. "Tak ada air panas," kata Narran, yang cukup fasih berbahasa Melayu karena pernah tinggal di Malaysia.

    Setelah menempuh perjalanan sekitar 36 jam, mereka tiba di kawasan Pulau Chrismast, Australia. Ketika hendak menuju bibir pantai, tiba-tiba perahu mereka dihadang dua speed boat milik aparat Australia. "Kami digiring ke sebuah kapal besar. Kami dinaikkan ke kapal milik Custom (Bea Cukai) Australia. Di sana ada pula kapal Navy Australia," ujarnya.

    Aparat Australia kemudian memeriksa dokumen yang dibawa para imigran. Setelah itu, mereka dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang gelap di kapal tersebut. "Perahu yang kami tumpangi ditenggelamkan oleh polisi Australia," katanya.

    Selama berada di ruangan tersebut para imigran hanya diberi makanan berupa cokelat dan air mineral. Jumlahnya pun sangat-sangat sedikit. Cokelatnya pun kecil-kecil.

    Untuk bertahan hidup, mereka membagi rata potongan-potongan cokelat itu. "Kami lapar. Kami membawa anak kecil, kami butuh makanan anak kecil, tapi mereka hanya memberi cokelat," ucap Narran.

    Para imigran ini berlayar di tengah laut hingga pada Rabu malam, 5 Februari 2014 terdampar di Pantai Pangandaran.

    CANDRA NUGRAHA

    Berita lain:
    60 Ribu Imigran Gelap Siap Menuju Australia
    Imigran Usiran Australia Diinapkan di Hotel
    Imigran Usiran Australia Diserahkan ke Imigrasi
    Lagi, Imigran Usiran Australia Terdampar
    Indonesia Kecam Kebijakan Australia Tolak Imigran

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Riuh di Panggung, Riuh di Cyber

    Di dunia maya, adu cuitan dan status jauh lebih ramai antara pendukung dan juru bicara kedua kubu.