Jumat, 16 November 2018

Usaha Menggusur Megawati dari PDI Perjuangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Mendekati kongres, roda partai PDI Perjuangan mulai berputar cepat. Beberapa kader dalam tubuh PDIP menginginkan adanya perubahan manajemen partai berlambang kepala banteng itu. Terlihat kasak kusuk untuk memunculkan nama lain di luar ketua umum yang sekarang, Megawati Sukarnoputri. Namun, Sophan Sopian salah seorang nama yang sering disebut-sebut akan menggantikan Megawati dan sosok kader PDI Perjuangan yang terkenal kritis terhadap kepemimpinan Megawati ini membantah adanya kelompok yang melakukan gerakan menggergaji Mega. "Bohong itu, gak ada,"katanya di Jakarta, Senin (17/1) malam. Menurutnya pertemuan beberapa kader inti di tubuh PDIP di Hotel Sahid Jaya, Jakarta Senin (17/1) siang tadi, adalah pertemuan biasa diantara kader-kader partai. "Itu pertemuan biasa dan dulu-dulu sering itu bagi kami," kata Sophan. Meskipun secara intensif adanya pertemuan ini untuk merumuskan manajemen PDIP ke depan tak melibat orang -orang yang selama ini sangat mendukung Megawati. "Siang tadi saya masih bertemu pak Arifin Panigoro. Betul dia mundur dari DPR, tapi gak mungkin ada rencana de-Meganisasi,"kata. Isu tentang adanya de-Meganisasi atau menyingkirkan orang-orang yang selama ini berada di lingkaran dalam Megawati, menurut Sophan, adalah isu yang coba dihembuskan oleh orang-orang yang tidak suka dengan perbaikan di tubuh PDIP. "Saya jamin isu itu dari orang-orang yang ingin merusak dan melemahkan kader-kader PDIP,"ujarnya.Sedangkan dari nama-nama yang disebut-sebut akan membentuk blok di luar Mega, diantaranya seperti Arifin Panigoro, Ry BB Janis, Noviantika Nasution, Kasdam Hutasoit, dan Didik Supriyanto menurut Sophan adalah wajar saja. Karena mereka adalah orang-orang di internal partai yang seringkali secara terbuka berbeda pendapat dan bertentangan dengan Megawati. "Hanya mereka di luar gak mau bicara,"kata Sophan.Hampir senada dengan Sophan, Noviantika Nasution, Bendahara PDIP ini kepada Tempo di Jakarta, Senin (17/1) juga membantah adanya gerakan de-Meganisasi ini secara definitif. "Kalau kami menginginkan adanya perubahan ya. Karena hanya ada dua pilihan bagi kami. Tetap seperti ini atau berubah,"kata Novi. Tetapi semua itu, lanjutnya hanya akan dibahas secara terbuka dalam forum Kongres yang dijadwalkan selesai tanggal 1 April 2004 mendatang, tentunya untuk membuat dan merumuskan kembali manajemen partai lima tahun ke depan.Manajemen PDIP diakuinya tidak membanggakan, terbukti dari kekalahan PDIP dalam pemilu 2004 dan penurunan secara drastis pemilih PDIP. Pengurus terbukti tidak menjalankan amanat kongres sebelumnya, artinya ada yang salah dan perlu direvisi. "Perlu evaluasi dan menyusun formulasi manajemen yang cocok untuk partai ke depan," ujar Novi.Diperkirakan Novi, kongres ke depan masih akan sama saja jika Megawati tetap mencalonkan diri menjadi ketua umum kecuali ada tawaran baru dari dia untuk perbaikan partai.Yang paling ideal, menurut Novi, menjadi calon ketua PDIP adalah orang yang paling sesuai untuk pemilih di pemilu 2009. "2009 nanti pemilih kita sudah pasti lebih maju, lebih kritis, lebih rasional, lebih muda dan hebat dari sekarang. Kalau mengandalkan sosok Megawati seperti sekarang sudah pasti PDIP akan semakin terpuruk,"katanya.Tema pembicaraan yang dibahas dalam pertemuan di Hotel Sahid Senin siang, menurut Novi tidak banyak membicarakan hal-hal baru. "Semua hal-hal umum yang biasa diketahui publik."Orang-orang yang kritis di tubuh PDIP ungkap Novi sangat banyak, seperti Ry BB JAnis, Sophan Sopian, Arifin Panigoro, Sutardjo Suryoguritno dan lain-lain. Namun ia menolak menyebut diri mereka sebagai orang yang kritis di luar Mega. Apalagi membentuk blok tersendiri. "Tidak. Kami tetap dalam tubuh PDIP. Dalam pertemuan tadi kami coba menyusun tim dan mendata apa kita masih punya banyak kader atau tidak. Dan, ternyata kita masih punya banyak,"katanya.Tentang bursa calon-calon ketua partai yang sudah mulai muncul, menurut Sophan maupun Novi sebaiknya tetap dibiarkan bergulir tanpa harus membuat pengerucutan satu nama untuk menghadapi Megawati di Kongres nanti. "Akan lebih baik kalau banyak yang mencalonkan. Walau banyak yang mencalonkan diri sebagai penantang Ibu Mega, mereka bukan musuh partai tapi adalah aset. Tolong sampaikan ini. Mereka adalah aset,"kata Novi.Banyaknya calon akan mendewasakan PDIP yang konon mendedikasikan diri sebagai partai yang demokratis. Sebab, mekanisme pemilihan nantinya diharapkan akan muncul ada pasangan-pasangan calon yang tidak langsung dipilih satu sebagai ketua tetapi akan ada banyak calon yang kemudian mengkristal secara sistematis menjadi tiga atau dua pasangan nama untuk kemudian dipilih lagi. Artinya ada dua tahap pemilihan untuk calon ketua PDIP dalam kongres nanti. "Dalam kongres nanti seperti pemilu kemarin. Artinya biarkan kader memilih dan segala kemungkinan dibahas di sana,"kata Novi. Saat ini sudah muncul dua nama calon ketua yang akan mendampingi Mega dalam bursa persaingan calon ketua umum PDIP yakni Sophan Sophian dan Guruh Sukarno Putra yang diusung oleh beberapa elemen dan DPD.Agus Supriyanto

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.