Banjir Reda, Tol Tangerang-Merak Masih Macet Parah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kepadatan arus penyeberangan Kapal Ferry di pelabuhan Merak, Banten, Jawa Barat (27/08). H-3 jelang Lebaran terjadi antrean kendaraan pemudik sepanjang tiga kilometer di jalan tol Tangerang-Merak. TEMPO/Arnold Simanjuntak

    Suasana kepadatan arus penyeberangan Kapal Ferry di pelabuhan Merak, Banten, Jawa Barat (27/08). H-3 jelang Lebaran terjadi antrean kendaraan pemudik sepanjang tiga kilometer di jalan tol Tangerang-Merak. TEMPO/Arnold Simanjuntak

    TEMPO.CO, Tangerang - Meski banjir sudah lama surut, kemacetan di Jalan Tol Tangerang-Merak masih saja terjadi. Kemacetan mengular panjang dari Tol Balaraja Barat hingga menjelang gerbang Tol Cikupa setiap hari.

    Pengguna jalan tol banyak yang mengeluhkan kondisi kesemrawutan di jalan tol penghubung antara Jakarta dan Banten tersebut. "Hampir setiap hari kami dihadapkan dengan kemacetan parah. Masalah di jalan tol ini seperti tidak pernah selesai," ujar Sudirman, 38 tahun, sopir angkutan Balaraja-Tangerang, kepada Tempo, Selasa, 28 Januari 2014.

    Menurut dia, kemacetan di jalur ini terjadi hampir 24 jam setiap harinya. "Macetnya enggak kenal waktu dari pagi, siang sampai malam. Perjalanan kami jadi sangat melelahkan," katanya.

    Kemacetan parah yang terjadi sejak keluar Tol Balaraja Barat hingga menjelang Tol Cikupa, menurut Sudirman, menjadi kendala mereka mengantarkan penumpang. Sebab, jika dalam kondisi normal, daya tempuh Balaraja-Tangerang bisa dikejar dalam tempo 20 hingga 30 menit. "Tapi kalau macetnya parah begini bisa dua jam lebih perjalanan," katanya.

    Lambatnya perjalanan itu, ia meneruskan, berdampak buruk pada pelayanan shuttle bus yang terjadwal setiap satu jam sekali mengangkut penumpang tujuan Tangerang-Balaraja dan Balaraja-Tangerang. "Penumpang jadi banyak yang marah karena bus tak bisa tepat waktu," katanya.

    Di sisi lain, Sudirman menambahkan, pendapatan para sopir menjadi jauh berkurang. "Pendapatan kami kan dari ritasi. Kalau dalam kondisi normal kami bisa delapan-sembilan kali bolak-balik. Sekarang kami cuma tiga kali bolak-balik. Jelas kami buntung dan cuma dapat capeknya saja," katanya.

    Hendra, 35 tahun, pengendara lainnya, juga mengaku sering kesal dengan kondisi jalan tol tersebut. "Padahal, jalan tol ini sudah menaikkan tarifnya sejak November tahun lalu, tapi pelayanannya tidak berubah. Dari dulu sampai kini macet melulu," katanya.

    Warga Sukamulya, Kabupaten Tangerang, ini mengeluhkan masalah kemacetan yang tak pernah selesai di jalan tol tersebut. "Sangat melelahkan dengan kondisi seperti ini. Sudah dipaksa menikmati kemacetan, kami harus membayar mahal tarif tolnya," katanya. Hendra meminta pihak berwenang mengkaji kembali tarif tol tersebut karena pelayanannya tidak sesuai dengan biaya yang harus dikeluarkan pelanggan.

    Kemacetan parah terjadi di Tol Tangerang-Merak dalam beberapa pekan terakhir ini. Berdasarkan pengamatan Tempo, setiap hari kemacetan mengular panjang dari KM 32 arah Jakarta hingga menjelang gerbang tol Cikupa. Kemacetan itu dipicu oleh kondisi jalan yang rusak dan berlubang. Hal ini diperparah dengan pekerjaan proyek pelebaran jalan dan peninggian jalan yang ada di tengah jalan tol tersebut. Dengan demikian, kendaraan yang melaju terpaksa melambatkan laju kendaraan untuk menghindari lubang di badan jalan tol tersebut.

    Kondisi serupa juga terjadi di arah Jakarta-Tangerang, tepatnya setelah keluar dari gerbang tol Cikupa. Di sini pengendara kembali terjebak macet hingga beberapa kilometer karena jalan juga rusak.

    Juru bicara PT Marga Mandala Sakti, pengelola jalan tol tersebut, Ahmad Rizalmi, mengatakan kerusakan jalan tol tersebut disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan kendaraan yang berat membuat aspal bolong-bolong disepanjang KM 32-KM34. "Manajemen sekarang sedang melakukan pacing (penambalan aspal)," katanya. Proses penambalan aspal, ia melanjutkan, baru bisa dilakukan sekarang karena hujan yang tak berhenti mengguyur area sekitar pada pekan sebelumnya.

    JONIANSYAH


    Baca juga:

    Ahok: Bawah Tanah Jakarta Dobel Semrawut
    Rumah Airin Digeledah KPK, Empat Brimob Berjaga
    Soal Banjir Jakarta, Ini 3 Janji Bupati Bogor kepada Jokowi
    PLN Tawarkan Penggantian KWH Meter Gratis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.