Butet Puji Ahok Cocok Pimpin Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahok menggendong Butet Kartaredjasa di kantor Ahok. Dok. Butet

    Ahok menggendong Butet Kartaredjasa di kantor Ahok. Dok. Butet

    TEMPO.CO, Jakarta--Pelawak dan pemain teaterButet Kartaredjasa menilai sosok Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama cocok untuk memimpin Indonesia. Butet mengatakan karakter Ahok, begitu Basuki biasa dipanggil, yang tegas cocok untuk memimpin bangsa Indonesia.

    "Seperti Ahok harus tegas untuk Indonesia. Pantang dan malu korupsi," kata Butet, Sabtu, 25 Januari 2014.

    Butet mengatakan dalam wawancara untuk acara bincang-bincang yang dipandunya, "Sentilan Sentilun", Basuki yang akrab dipanggil Ahok mengaku menikmati posisi sebagai pejabat eksekutif. Soalnya, menurut pengakuan Basuki kepada Butet, pejabat eksekutif memiliki kesempatan mengambil kebijakan penting.

    Butetpun menanyakan apakah Ahok ingin menjadi RI-1. "Dia bilang, itu penting," kata Butet,"Saya samber lagi, kalau situ jadi presiden itu indikator keberhasilan demokrasi di Nusantara Raya. Situ kan salahnya dua, udah Kristen eh Cina lagi."

    Butet menilai Ahok sebagai sosok pemimpin yang apa adanya, akrab dan tidak diskriminatif. "Yang pasti dia bukan pemimpin yang jaim. Saya candai, ketawa-ketiwi, ikhlas-ikhlas saja. Mungkin karena memang saya tidak punya pretensi apapun," kata Butet.

    Pertemuan Ahok dan Butetpun diabadikan dalam potret dengan pose jahil ala Butet, bergantian saling gendong. Foto saling gendong ini diunggah Butet di akun Instagram-nya dan mengundang komentar banyak orang.(baca:(baca:Kisah Ahok Menggendong Butet Kartaredjasa)

    BERNADETTE CHRISTINA MUNTHE

    Baca juga:
    Ahok: Waduk Baru Akan Dibangun di Jakarta Utara

    Ahok Dikuntit Banjir Sejak Lahir

    Ahok Kumpulkan Pejabat DKI Hari Ini

    Adik Ahok Bantah Terima Suap Izin Tambang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.