SBY Sakit Hati Tak Jadi Wapres Mega

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi TEMPO.

    Ilustrasi TEMPO.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata memendam rasa sakit hati dan malu setelah pernah kalah saat mencalonkan diri sebagai wakil presiden untuk Megawati Soekarnoputri pada 2001. Saat itu, Mega baru saja terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia ke-5, menggantikan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur melalui Sidang Istimewa MPR.

    Dalam bukunya, Selalu Ada Pilihan, yang diluncurkan Jumat, 17 Januari 2014, pekan lalu, SBY menulis pada halaman 194 bahwa dia berani maju menjadi calon wakil presiden karena banyaknya dukungan dari sejumlah kalangan dan fraksi di MPR. “Saya berani maju karena polling yang dilakukan berbagai lembaga survey menunjukkan dukungan rakyat untuk saya tinggi,” tulis SBY. "Hasil polling itu bahkan jauh lebih tinggi ketimbang tokoh lainnya.”

    Namun, toh, hasil survei itu tak sesuai dengan kenyataan. Menurut SBY, dari lima calon wakil presiden, perolehan suaranya masih di bawah Hamzah Haz dan Akbar Tanjung. Akhirnya, Hamzah Haz yang saat itu merupakan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan menjadi wakil Mega. 

    SBY mengaku, kekalahan itu sangat membuatnya sedih. “Saya sakit dan sedih. Omong kosong kalau ada yang mengatakan kalah dalam pemilihan presiden atau wakil presiden itu biasa. Tidak. Ada sedihnya,” kata SBY.

    Meski begitu, menurut SBY, kesedihan itu tak berlangsung lama. Ia mengaku bisa mengontrol emosinya dan mengakui telah salah kalkulasi. “Saya pikir, saya akan menang karena dukungan rakyat begitu tinggi,” kata SBY. “ Saya lupa, kalau memilih seorang calon wakil presiden waktu itu tergantung pada 700 anggota MPR, bukan sekian ratus juta rakyat Indonesia,” ujarnya.

    Karena itu, SBY akhirnya berterima kasih kepada tim suksesnya. Ia juga menyampaikan keterangan kepada pers bahwa dia menerima kekalahan.

    WDA

    Berita terkait buku SBY
    Lewat Buku, SBY Bilang Tak Suka Kritik Asbun
    Sejarah SBY Mau Aktif di Media Sosial
    SBY Bahas Soal Fitnah di Buku 'Selalu Ada Pilihan' 
    Alasan SBY Pilih Judul Buku 'Selalu Ada Pilihan' 
    SBY Stres Bukunya Terlalu Tebal
    Ibu Negara dan 5 Etika Media Sosial


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...