Pemenang Proyek Simulator Dihukum 8 Tahun Penjara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi  Budi Susanto memasuki ruang sidang saat menjalani sidang pembacaan tuntutan kasus dugaan korupsi pengadaan simulator SIM di Pengadilan Tipikor, Jakarta, (2/1). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Direktur Utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi Budi Susanto memasuki ruang sidang saat menjalani sidang pembacaan tuntutan kasus dugaan korupsi pengadaan simulator SIM di Pengadilan Tipikor, Jakarta, (2/1). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menghukum Direktur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi, Budi Susanto, dengan pidana penjara selama 8 tahun, dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Budi dinilai bersalah lantaran melakukan korupsi dalam proyek simulator uji kemudi tahun anggaran 2011 di Korps Lalu Lintas Polri.

    "Terdakwa terbukti melakukan korupsi secara bersama-sama," kata ketua majelis hakim Amin Ismanto saat membacakan amar putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 17 Januari 2014.

    Selain hukuman itu, Budi juga diwajibkan membayar uang pengganti Rp 17,13 miliar. Jika tak dibayar sampai putusan berkekuatan hukum tetap, hartanya akan disita. "Dan jika tak mencukupi, maka dipidana selama 2 tahun," ujar Amin. Menurut Amin, duit itu harus dibayarkan sebagai uang pengganti garansi satu tahun perawatan simulator yang semestinya dikeluarkan oleh perusahannya.

    Hukuman ini lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebelumnya, mereka meminta hakim menghukum Budi dengan pidana penjara 12 tahun, dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Dia juga dituntut membayar uang pengganti Rp 88,446 miliar.

    Budi, kata hakim, terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang  Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undnag Hukum Pidana juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

    Korupsi ini dilakukan Budi bersama-sama dengan Inspektur Jenderal Djoko Susilo, yang saat itu menjadi Kepala Korlantas, pejabat pembuat komitmen Brigadir Jenderal Polisi Didik Purnomo, Direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia Sukotjo Sastronegoro Bambang, dan Ajun Komisaris Besar Polisi Teddy Rusmawan, yang menjadi ketua panitia pengadaan.

    Menurut hakim, Budi bersama Teddy mengatur agar perusahaannya menang dalam proyek itu. Dia juga mengatur harga perkiraan sendiri dengan menggelembungkan harga. Pekerjaan itu pun tak dilakukan oleh perusahaan Budi, melainkan dikontrakkan ke perusahaan milik Sukotjo Bambang, PT Inovasi Teknologi Indonesia.

    Dalam proyek itu, Budi tak hanya dianggap menguntungkan diri sendiri sebesar Rp 17,13 miliar. Ia juga memperkaya Djoko sebanyak Rp 36,934 miliar, Didik Purnomo Rp 50 juta, Sukotjo Bambang Rp 3,3 miliar, dan Primer Koperasi Polri 15 miliar. Selain itu, Budi juga dianggap memperkaya tim Inpektorat Pengawasan Umum, yakni Wahyu Indra Pramugari, sebesar Rp 500 juta, Darsian Rp 50 juta, Gusti Ketut Gunawa Rp 50 juta, dan Warsono Sugantoro Rp 20 juta. (Baca juga: Budi Susanto Akui Berikan Cek ke Djoko Susilo).

    Baik kubu Budi maupun jaksa menyatakan akan mempertimbangkan apakah akan menerima atau mengajukan banding terhadap putusan tersebut.

    NUR ALFIYAH


    Berita Populer

    Otto Hasibuan Mundur Sebagai Pengacara Akil 
    Djoko Kirmanto: Jokowi Jangan Ambil Wewenang Pusat
    Kisah Cinta Ahok, Beda 9 Tahun dengan Istrinya  
     
    Jajal Bus Transjakarta Baru, Jokowi Kedinginan AC 
    Suami Khofifah Sudah Lama Menulis Hari Kematiannya  

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.