Salova, Saksi Kasus HAM Timtim, Mengaku Keterangannya Asal-asalan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Bekas Kapolres Liquica, Ajun Komisaris Besar Polisi Adios Salova, mengaku memberi keterangan asal-asalan dalam berita acara pemeriksaan. Waktu itu, saya kecewa karena baru pulang bertugas untuk negara di Aceh, malah jadi terdakwa untuk tugas saya di Timor Timur, katanya, ketika menjadi saksi dalam sidang lanjutan perkara pelanggaran HAM berat di Timor Timur, di Pengadilan Adhoc HAM Jakarta Pusat, Kamis (9/1). Dalam persidangan ini, bekas Panglima Kodam Udayana, Mayjen Adam Damiri, duduk di kursi terdakwa. Pengakuan Salova --yang baru saja diputus bebas murni dalam perkara pelanggaran HAM berat yang samadiungkap setelah ia mencabut beberapa kesaksiannya dalam berita acara. Sebelumnya, Jaksa Abdul Hamid terus mencecar saksi dengan pertanyaan seputar keterlibatan tentara Indonesia dalam kerusuhan berdarah di kompleks gereja Liquica, 6 April 1999 silam. Dalam berita acara, Salova mengaku tempat kejadian perkara di kompleks gereja Liquica baru diserahkan kepada polisi dari tangan Kodim Liquica pada pukul 17.00 waktu setempat. Padahal, bentrok tersebut sudah berlangsung sejak siang hari. Hal itu membuat jaksa dan majelis hakim yang diketuai Emmy Marni Mustafa mempertanyakan sejauh mana keterlibatan TNI dalam peristiwa itu, mengingat penyidikan tindak pidana umumnya merupakan kewenangan polisi. Namun, Salova buru-buru meralat keterangannya. Maksud saya, tempat kejadian perkara itu baru diserahkan pada saya oleh kepala satuan serse pukul 17.00 sore, katanya. Lima orang pengungsi pro kemerdekaan tewas dan 20 lainnya luka-luka dalam insiden itu. Kesaksian lain yang diralat Salova berkaitan dengan hubungan Komandan Milisi Aitarak Prointegrasi, Eurico Gueterez, dengan Komando Distrik Militer setempat. Dalam berita acara, Salova --yang menjabat Kapolres selama setahun sampai Juli 1999, mengaku melihat Eurico mengadakan briefing dengan anak buahnya, di samping markas Kodim sebelum penyerangan berlangsung. Namun, setelah ditanya berkali-kali oleh jaksa Hamid, Salova mengaku hanya melihat kejadian itu dari kejauhan. Saya sedang sibuk dan tak begitu memperhatikan, katanya. Akibat kesaksiannya yang berbelit, hakim Marni Mustafa sempat menegur Salova. Tolong, beri kesaksian yang jujur dan sebenarnya. Jangan emosi, katanya. Lalu, ia minta ketegasan Salova perihal kesaksiannya di berita acara. Salova --yang hadir dengan stelan safari biru tua-- lalu berkilah bahwa kesaksian tertulisnya itu tidak akurat. Waktu itu, saya ngomong asal-asalan saja karena kecewa, ujanya. Pada sidang yang sama, penasehat hukum Damiri, Kolonel AB Setiawan juga berusaha mempertegas tidak terlibatnya Wakil Komandan Resort Militer Timor Timur dan Komandan Satgas Tribhuana Kopassus, Letkol Yayat Sudrajat, dalam insiden Liquica, meski keduanya ada di lokasi ketika kerusuhan itu terjadi. Meski Wakil Danrem pangkatnya kolonel, wewenang keamanan tetap ada pada saya. Beliau hanya memberi saran, kata Salova, tegas. Selanjutnya, Salova membenarkan Yayat Sudrajat sempat menawarkan bantuan untuk bernegosiasi dengan Pastur Rafael dalam kompleks gereja, namun ditolak. Yang berangkat tetap polisi, yakni John Rea, kata Salova. Di akhir persidangan, Damiri sempat meminta penegasan dari saksi, apakah pernah melihat satuan TNI atau polisi yang membantu milisi prointegrasi menyerang gereja Liquisa. Dengan cepat, Salova pun menjawab, Tidak! Persidangan berikutnya, awal pekan depan, dijadwalkan mendengarkan keterangan saksi ahli dan saksi meringankan dari terdakwa. Pada 23 Januari, majelis hakim sudah menjadwalkan sidang telekonferensi untuk saksi Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo dan Pastur Rafael. (Wahyu Dhyatmika-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.