Senin, 10 Desember 2018

Australia Khawatir Indonesia Berpihak ke Cina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Cina Wen Jiabao (kiri) dan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa di Jakarta (30/4). AP/Tatan Syuflana

    Perdana Menteri Cina Wen Jiabao (kiri) dan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa di Jakarta (30/4). AP/Tatan Syuflana

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Kajian Politik Center for Indonesian National Policy Studies, Guspiabri Sumowigeno, menilai alasan Australia menyadap komunikasi sejumlah petinggi Indonesia disebabkan kekhawatiran mereka bahwa Indonesia akan "berpaling" kepada Cina.

    Padahal, Barat (Amerika Serikat dan semua sekutunya di seluruh dunia) memiliki skenario besar membendung pengaruh Cina di mana-mana, yang dinamakan China Containment. Dalam konteks China Containment inilah, maka perebutan pengaruh Barat dan Cina itu terjadi secara sengit.

    "Inilah yang sekarang sedang membuat panik kekuatan-kekuatan politik Australia," kata Sumowigeno, Kamis.

    China Containment merupakan cara Amerika Serikat dan sekutunya membendung peningkatan pengaruh Cina sebagai negara adidaya baru dalam ekonomi, militer, politik, dan budaya.

    Menurut Sumowigeno, pengungkapan skandal penyadapan Australia dari kantor kedutaan besarnya di Jakarta ini, "Pasti merusak strategi yang ditujukan untuk membendung kebangkitan pengaruh Cina yang sedang muncul menjadi kekuatan adidaya ekonomi, politik dan militer."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.