Atut, 'Ratu Banten' yang Hobi Pelesir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menurut Heriyanto, Kepala Bagian Humas dan Tata Usaha Ditjen Imigrasi, membenarkan bahwa nama Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah Chasan di paspor tanpa memakai nama Ratu dan identitas kebangsawanan Banten. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menurut Heriyanto, Kepala Bagian Humas dan Tata Usaha Ditjen Imigrasi, membenarkan bahwa nama Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah Chasan di paspor tanpa memakai nama Ratu dan identitas kebangsawanan Banten. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah senang jalan-jalan. Paspornya dipenuhi oleh cap imigrasi berbagai negara, seperti Singapura, Mesir, Italia, Swiss, Jepang, hingga Uni Emirat Arab.

    Pernyataan dari berbagai pihak mengungkap Atut berpelesir untuk memuaskan hasratnya berbelanja. Perempuan 51 tahun itu mampir ke gerai-gerai barang mewah dan menghabiskan puluhan hingga ratusan juta rupiah sekali belanja. "Sangat kontras dengan kemiskinan yang terjadi di Banten," ujar juru bicara Masyarakat Transparansi Banten Oman Abdurahman, Jumat, dua pekan lalu.

    Salah satu kisah pelesiran Atut bisa dicuplik dari awal tahun lalu. Pada 20 Januari 2012, Atut melancong ke Eropa. Pesawat Singapore Airlines SQ953 mengantarkan saudara kandung tersangka kasus dugaan suap pemilihan kepala daerah dan dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Tangerang Selan, Tubagus Chaeri Wardana, itu terbang ke Swiss. Ia juga menyinggahi Italia untuk berbelanja di Kota Mode, Milan. Perjalanan ini berakhir pada 30 Januari 2012, ketika pesawat Singapore Airlines SQ 950 yang ditumpangi Atut mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.

    Atut datang ke Eropa tanpa sepengetahuan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Duta Besar Indonesia untuk Swiss, Djoko Susilo, menuturkan perjalanan pejabat sekelas gubernur normalnya dilaporkan ke kedutaan. Menurut dia, laporan diperlukan untuk protokol dan keamanan pejabat.

    Sepekan setelah perjalanan ke Eropa, Atut terbang lagi. Pada 6 Februari, pesawat Singapore Airlines SQ 967 membawa Atut berangkat ke Tokyo, Jepang. Di Negera Matahari Terbit, Atut memuaskan hasrat belanjanya. Ia memborong pelbagai produk Hermes sampai harus merogoh kocek hingga Rp 430 juta. Di toko jual-beli barang mewah Daikokuya-Tokyo, ia kembali berbelanja hampir Rp 100 juta.

    Di akhir Februari, Atut melancong lagi. Kali ini ia singgah ke Dubai, Uni Emirat Arab. Sepulang dari Dubai, ia singgah di Singapura dan membeli jam lantai seharga Rp 100 juta. Ia pulang ke Jakarta pada 28 Februari.

    Kaki Atut hanya menapak sebentar di Indonesia. Dua hari kemudian, Atut berangkat lagi ke Singapura untuk membeli perhiasan di Flower Diamond Boutique seharga Rp 137 juta. Ia juga membelanjakan uang Rp 90 juta di toko perabotan mewah, Vanilla Home. Atut kembali ke Tanah Air pada 5 Maret. Pada 10 Maret, Atut lagi-lagi melawat ke Singapura selama empat hari. Bulan berikutnya, Atut terbang ke Korea.

    Hobi jalan-jalan Atut bisa dilacak sejak empat tahun silam. Di Kairo, Atut menghadiri peresmian asrama mahasiswa Banten. Di luar acara pokok, ia keluar-masuk pertokoan untuk belanja. Menurut pemandu wisata Atut ketika itu, sang gubernur berbelanja karena menganggap tak ada barang kualitas bagus di Indonesia.

    ANTON SEPTIAN | NUR ALFIYAH | RUSMAN PARAQBUEQ

    Berita Terpopuler
    Ini Foto Anggita Sari dan Enji Saat Masih Mesra

    Anggita Sari: Ibu Enji Istri Kedua Eks Kapolri 

    Marzuki Alie Ditantang Bersikap Jantan 

    Keluarga Ayu Ting Ting Sedikit Bicara  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.