Soal Capres Lain, Prabowo: Coba Kirim Psikiater  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua umum Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto Djojohadikusumo bersama kudanya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, (21/10). Tempo/Aditia Noviansyah

    Ketua umum Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto Djojohadikusumo bersama kudanya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, (21/10). Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Semarang - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, heran dengan sejumlah orang yang masih mau mencalonkan diri sebagai Presiden RI di tengah banyaknya persoalan yang dihadapi. Dia sendiri sudah menyatakan diri sebagai satu di antaranya.

    "Coba dikirim psikiater untuk memeriksa mereka (bakal calon presiden)," kata Prabowo saat berbicara di depan Pengurus Kamar Dagang dan Industri Jawa Tengah di Hotel Crown Semarang, Sabtu, 9 November 2013.

    Prabowo mengaku dirinya sudah banyak sekali mempelajari problem bangsa Indonesia. Dia juga banyak diberi masukan oleh para tim ahli. "Lama-lama saya juga gimana ya.....," kata dia.

    Prabowo menyebut ada empat problem utama di Indonesia. Pertama, menipisnya cadangan sumber daya energi. Kedua, ledakan populasi penduduk Indonesia. Ketiga, pemerintahan lemah, tidak efisien dan korup. Keempat, ketidakseimbangan struktur perekonomian.

    "Tapi Partai Gerindra menjadi satu-satunya partai yang sudah menyiapkan konsep pembangunan bangsa Indonesia," katanya mengklaim.

    ROFIUDDIN

    Terpopuler
    Pengamat: Aburizal Takut Jokowi Nyapres 

    Anas Bagi-bagi BlackBerry, Ruhut: Seperti Kentut 

    Gara-gara Salat, Karyawan DHL Dipecat 

    Trik-trik Akil Mochtar: Kalah-Menang Dibikin Duit

    Suami Ratu Atut Meninggal di RSPAD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.