SBY Menyentil Dinasti Politik Ratu Atut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi keterangan pers sebelum meninggalkan tanah air untuk melakukan kunjungan kerja ke tiga negara ASEAN yakni Singapura, Myanmar dan Brunei Darussalam di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Senin (22/4). Selama di Brunei, Presiden SBY akan menghadiri rangkaian pertemuan KTT ASEAN

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi keterangan pers sebelum meninggalkan tanah air untuk melakukan kunjungan kerja ke tiga negara ASEAN yakni Singapura, Myanmar dan Brunei Darussalam di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Senin (22/4). Selama di Brunei, Presiden SBY akan menghadiri rangkaian pertemuan KTT ASEAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyindir dinasti politik yang dibangun Gubernur Banten Ratu Atut Choisiyah. Meski tak menyebutkan nama Atut secara langsung, SBY mengaku telah berdiskusi dengan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi ihwal munculnya sejumlah kasus "raja-raja kecil" di daerah. Umumnya, kasus mereka melibatkan kerabat.

    "Meskipun Undang-Undang Dasar atau undang-undang tidak pernah membatasi siapa pun menjadi apa dalam posisi di pemerintahan; apakah ayah, ibu, anak, adik, segala macam, itu menduduki posisi-posisi di jajaran pemerintahan, tetapi saya kira kita lah yang mesti memiliki norma batas kepatutan," kata SBY di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 11 Oktober 2013. "Yang patut itu seperti apa, yang tidak patut itu seperti apa."

    SBY menilai berbahaya apabila kekuasaan politik yang dimiliki pejabat-pejabat daerah itu menyatu dengan kekuasaan bisnis. "Godaannya besar. Bisa terjadi penyimpangan di sana-sini," ujarnya. Ia mengatakan, era desentralisasi dan otonomi saat ini memang memberikan kekuasaan lebih besar kepada pemimpin daerah.

    Karena itu, SBY mengingatkan para pemimpin daerah agar berhati-hati dalam memegang kekuasaan dan menjalankannya dengan cara yang sepatutnya. Jika melebihi kepatutannya, ia menambahkan, godaan akan datang dan memicu penyalahgunaan. "Mari kita bangun kehidupan masyarakat yang baik. Mari kita bangun kehidupan pemerintahan dan bernegara yang baik," ucap dia. "Kalau itu wajar, patut, maka itu tidak akan membawa keburukan apa pun."

    Pada 3 Oktober pekan lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap Akil Mochtar, Ketua Mahkamah Konstitusi nonaktif di rumah dinasnya di kawasan Widya Candra, Jakarta, atas dugaan kasus suap dalam perkara sengketa pemilihan kepala daerah Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Akil juga diduga menerima suap dari perkara sengketa pilkada Lebak, Banten.

    Selain Akil, KPK menetapkan status tersangka kepada politikus Partai Golkar, Chairun Nisa; Bupati Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Hambit Bintih; Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan, yang juga adik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah; advokat Susi Tur Andayani; serta pengusaha asal Palangkaraya, Cornelis Nalau.

    PRIHANDOKO

    Topik Terhangat
    Ketua MK Ditangkap | Dinasti Banten | APEC | Info Haji | Pembunuhan Holly Angela

    Berita Terkiat
    SBY: Semoga Allah Mengampuni Luthfi Hasan
    SBY Minta Luthfi Hasan Tak Bersaksi Palsu
    Fathanah Berutang Dua Miliaran ke Luthfi Hasan
    KPK Geledah Kantor Adik Atut di Banten
    Luthfi Mengaku Hanya Dibayari Yudi Dua Setel Jas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!