Jumat, 16 November 2018

Festival Lasem Menyusuri Jalur Perdagangan Candu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengunjung memilih kain batik Lasem, pada Finance & UMKM Expo di Semarang, Jateng, Jumat (25/5). ANTARA/R. Rekotomo

    Seorang pengunjung memilih kain batik Lasem, pada Finance & UMKM Expo di Semarang, Jateng, Jumat (25/5). ANTARA/R. Rekotomo

    TEMPO.CO, Rembang - Festival Lasem di Rembang, Jawa Tengah, mengagendakan acara perjalanan menyusuri jalur perdagangan candu pada abad 16-19. “Tur susur Sungai Babagan ini bekerja sama dengan para nelayan,” kata Agus AS, panitia festival, Jumat, 11 Oktober 2013. Jalur perdagangan candu itu ditemukan dua tahun lalu, berupa gorong-gorong menuju rumah pengusaha candu kala itu. Festival ini berlangsung pada 13-20 Oktober 2013.

    Gorong-gorong untuk memasukkan candu ke rumah pengusaha Cina itu ditemukan di rumah pinggir Sungai Babagan yang biasa disebut Lawang Ombo. “Gorong-gorong itu bisa dilihat wisatawan pada waktu-waktu tertentu dengan menumpang perahu dari bibir pantai,” kata Agus. Selain melihat gorong-gorong bersejarah, wisatawan bisa mencoba menyusuri sungai yang pernah menjadi urat nadi peredaran candu terbesar di Indonesia itu.

    Dengan menyewa perahu nelayan, yang tarif sewanya Rp 300 ribu, untuk menyusuri jalur candu yang berjarak sekitar 5 kilometer itu, wisatawan perlu menempuh perjalanan sekitar dua jam. “Wisatawan bisa melihat sisa-sisa galangan kapal kuno dan jajaran hutan mangrove serta kehidupan nelayan sepanjang pantai,” kata Agus, yang juga Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah Lasem. Penyusuran sungai itu berakhir di Pantai Gedongmulyo atau Pulau Gosong.

    Menurut Agus, perdagangan candu itu dilakukan pengusaha Cina di Lasem yang didatangkan dari Cina dan Benggala, India. Dengan diangkut kapal dagang Cina, candu itu kemudian didaratkan di Pulau Gosong, sebelah utara Lasem. Kemudian, candu itu diangkut ke darat menggunakan perahu nelayan melalui Sungai Babagan, Lasem.

    Lasem memiliki banyak situs cagar budaya, berupa rumah candu dengan arsitektur Cina; bangunan lawas yang bercorak paduan arsitektur kolonial, Cina, dan lokal; juga pelabuhan Lasem yang sudah ada sejak zaman Majapahit. “Kami sangat mendukung Lasem ditetapkan sebagai Kota Warisan Cagar Budaya,” kata Bagus Ujianto, arkeolog dari BP3 Jawa Tengah, yang melakukan penelitian di Lasem.

    BANDELAN AMARUDIN

    Topik Terhangat
    Ketua MK Ditangkap | Dinasti Banten | APEC | Info Haji | Pembunuhan Holly Angela

    Baca juga
    Malioboro Ditutup, Warga Yogya Berpesta
    Pindang Tetel, Rawon Khas Pekalongan
    Menikmati Kuliner Serba Madu di Panti Kartini
    Ada Festival Tengkleng di Solo



     

     

    Lihat Juga