Jalan Damai Munzir Almusawa di Kasus Mbah Priok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan shalat jenazah berjamaah di depan jenazah Pemimpin Majelis Rasulullah (MR) Munzir Al Musawa saat melayat  di rumah duka Kompleks Liga Emas, Pancoran,  Jakarta Selatan (16/9). Munzir yang meninggal dalam usia 40 tahun itu karena sakit. ANTARA/Setpres-Cahyo

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan shalat jenazah berjamaah di depan jenazah Pemimpin Majelis Rasulullah (MR) Munzir Al Musawa saat melayat di rumah duka Kompleks Liga Emas, Pancoran, Jakarta Selatan (16/9). Munzir yang meninggal dalam usia 40 tahun itu karena sakit. ANTARA/Setpres-Cahyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Munzir meninggal dalam usia 40 tahun pada Minggu, 15 September 2013. Dia dikenal sebagai sosok yang mencintai kedamaian dan kelembutan. Tak heran jika kelembutan dakwahnya ini telah menarik ribuan jemaah Majelis Rasulullah SAW yang dipimpinnya. Sikapnya yang mengambil cara-cara damai juga ditunjukkan dalam menyikapi kasus-kasus besar, seperti kasus Ahmadiyah dan bentrokan berdarah makam Mbah Priok pada 14 April 2010.

    Peristiwa berdarah makam Mbah Priok terjadi saat bentrokan antara ratusan anggota Satpol PP dan massa. Bentrokan ini dipicu dengan rencana penggusuran makam keramat Mbah Priok untuk area pelabuhan yang dikelola PT Pelindo II. Rencana ini ditentang ahli waris Mbah Priok yang didukung sejumlah elemen umat Islam.

    Dalam kasus bentrokan berdarah makam Mbah Priok, Munzir dengan tegas melarang jemaah Majelis Rasulullah turun ke lapangan dan melakukan kekerasan. "Instruksi saya untuk seluruh jemaah majelis Rasulullah SAW, dan imbauan saya pada seluruh muslimin-muslimat, jangan mengambil tindakan kekerasan," kata Munzir dalam instruksi yang juga disampaikan melalui milis dan situs www.majelisrasulullah.org.

    Bagi Munzir, cara terbaik dalam menengahi pihak-pihak yang bersengketa dalam kasus makam Mbak Priok adalah dengan cara baik-baik tanpa perlu ada keributan. Menurut dia, dia mengeluarkan instruksi tersebut menjawab banyak pertanyaan anggota jemaahnya terkait sikap yang harus diambil saat terjadi bentrokan berdarah di makam Mbah Priok.

    Alih-alih turun langsung ke lapangan dalam kondisi yang serbagenting tersebut, Munzir memilih cara lain. Dia melobi berbagai pihak agar penggusuran makam Mbah Priok dibatalkan. Dia menghubungi Sekda DKI Muchayat. "Baik, kami tanggapi imbauan Habib, kami akan instruksi penarikan Satpol PP untuk mundur dari wilayah, dan makam tidak digusur," kata Munzir mengutip jawaban Muchayat.

    Bukan cuma melobi Sekda, Munzir juga menghubungi pihak lain. "Kami akan terus memperjuangkan hal ini bersama pihak Rabithah Alawiyyah tanpa melibatkan massa. Kami akan terus mengajukan Sekda, Gubernur, dan kalau perlu sampai kepada Presiden," kata Munzir. "Mudah-mudahan penggusuran digagalkan sebagaimana kabar terakhir yang sampai pada saya bahwa Gubernur menerima untuk tidak menggusur makam dan tidak melarang jemaah berziarah."

    Mengenai jatuhnya korban jiwa dari Satpol PP dalam bentrokan tersebut, Munzir mengaku menyesalkan terjadinya hal tersebut. "Mereka pun bagian masyarakat kita pula, mereka bagian keluarga kita pula. Buruknya mereka adalah aib kita pula karena saudara sebangsa, dan baiknya mereka juga merupakan baiknya nama kita dan bangsa kita. Dan mereka juga aparat yang perlu mendapat bimbingan para dai dan ulama agar lebih mengenal akhlak dalam menjalankan tugasnya," kata Munzir.

    AMIRULLAH

    Terhangat:

    Munzir Almusawa | Tabrakan Anak Ahmad Dhani | Siapa Bunda Putri

    Berita terkait:
    Munzir Almusawa Ramal Dirinya Wafat di Usia 40
    Pengiring Jenazah Munzir Padati Jalan Pancoran
    SBY: Habib Munzir Sosok yang Meneduhkan
    Lautan Pelayat di Rumah Duka Munzir Almusawa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.