Rizieq Presiden, Suryadharma Ali Calon Wakil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Agama Suryadharma Ali saat menjalani sidang Itsbat penetapan 1 Syawal 1434 H di gedung Kemenag RI, Jakarta Pusat (7/8). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Agama Suryadharma Ali saat menjalani sidang Itsbat penetapan 1 Syawal 1434 H di gedung Kemenag RI, Jakarta Pusat (7/8). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam Moh Al Khotot berpandangan Rizieq Syihab cocok dipasangkan dengan Suryadharma Ali dalam pemilihan Presiden 2014 mendatang. Menurut dia, Rizieq memiliki tingkat popularitas tinggi jika dibandingkan dengan calon-calon presiden saat ini. "Apalagi jika disandingkan dengan Menteri Agama Suryadharma Ali, sangat cocok," kata Al Khotot dalam Musyawarah Nasional Front Pembela Islam di Bekasi, Jumat, 23 Agustus 2013.

    Front Pembela Islam memulai musyawarah nasionalnya sejak Kamis, 22 Agustus hingga Sabtu, 24 Agustus. Rapat besar yang diadakan di Asrama Haji Bekasi Barat itu di antaranya membahas soal rencana kerja yang akan dilakukan FPI dan mengusung Ketua Umum FPI Rizieq Syihab sebagai calon presiden.

    Selain Al Khotot, dukungan kepada Rizieq dikemukakan Ketua Majelis Ulama Indonesia K.H. Cholil Ridwan. "Tokoh yang paling pas untuk menjadi Presiden Indonesia 2014-2019 adalah Habib Rizieq," kata Cholil saat memberikan sambutan.

    Suryadharma Ali menanggapi wacana itu dengan mengatakan, "Setiap warga negara berhak mencalonkan sebagai presiden asal memenuhi ketentuan, memiliki kendaraan politik yang cukup," kata Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan itu.

    Dalam musyawarah, FPI mengusung terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia bersyariah. Untuk mencapai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersyariah, negara mesti meningkatkan moralitas. Termasuk di antaranya merekomendasikan ke pemerintah untuk selalu memberantas korupsi serta kejahatan di dalam negeri. "Program kerja kami tetap meneruskan perjuangan Negara Kesatuan Repubplik Indonesia bersyariah," kata juru bicara FPI, Muchsin, kepada Tempo, Jumat, 23 Agustus.

    Dia mengungkapkan, untuk menuju negara yang bersyariah juga harus menyingkirkan pemikiran yang liberal dan sekuler. "Harus kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Yang liberal dan sekuler mesti dikeluarkan dari negara ini," ujarnya.

    Selain membahas program kerja, kata Habib Muchsin, munas juga akan membahas mengenai Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga organisasi. Puncaknya, bakal ada pemilihan pimpinan baru Front Pembela Islam.

    HAMLUDDIN | SUTJI DECILYA

    Berita Terpopuler

    Ini Daftar Lengkap Kekayaan Jenderal Moeldoko 
    Ahok Tak akan Ganti Lurah Lenteng Agung

    Ini 28 Adegan Rekonstruksi Pembunuhan Sisca Yofie

    Dada Ditahan KPK, Warga Bandung Tumpengan 

    Menikmati Claude Debussy Lewat Google Doodle



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.