Kenapa Ngurah Agung Membela Hak Muslim di Bali?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak Agung Ngurah Agung ketua Perhimpunan Hindu-Muslim Bali. TEMPO/Johannes P. Christo

    Anak Agung Ngurah Agung ketua Perhimpunan Hindu-Muslim Bali. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak Agung Ngurah Agung, Ketua Perhimpunan Muslim-Hindu Bali, kerap menggelar acara dan kegiatan antar-agama untuk memulihkan hubungan umat Hindu-Islam pasca-Bom Bali. Bagaimana awal mula tokoh Puri Gerenceng-Pemecutan ini membangun toleransi beragama?

    “Saya ingin meneruskan apa yang dilakukan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid),” kata pria 44 tahun ini kepada Tempo di kediamannya, pertengahan Juli lalu. Ikut menjaga harmoni antara pemeluk Islam dan Hindu sepertinya sudah menjadi pilihan hidup Ngurah Agung. (Baca: Ngurah Agung, Memulihkan Keretakan Hindu-Muslim)
       
    Dia memang mengagumi tokoh Nahdlatul Ulama, yang kemudian menjadi Presiden Indonesia keempat, yang dikenal sebagai penyokong keberagaman dan pembela minoritas itu.

    Pandangan dan sepak terjang Gus Dur itulah yang ingin diteruskan Ngurah Agung di Bali. Ia bahkan pernah menjadi pengurus Nahdlatul Ulama dan bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa pada era Gus Dur dulu.

    Lahir dari kalangan puri, Ngurah Agung dibesarkan secara Hindu di pesraman. Leluhur Ngurah Agung memang dikenal memiliki kedekatan dengan Islam. Salah satunya adalah A.A. Manik Mas Mirah, putri Raja Pemecutan, yang menikah dengan Raja Madura Barat Cakraningrat IV. Manik Mas Mirah kemudian memeluk Islam dan berganti nama menjadi Siti Khodijah.

    Namun, ketertarikan Ngurah Agung kepada para tokoh muslim muncul sejak ia mengenal Gus Dur sekitar 1995. Sejak saat itu, Ngurah Agung kerap berkunjung ke pesantren-pesantren di Jawa Timur dan menjalin hubungan dengan para kiai. Dari sinilah ia fasih melafalkan zikir. Atas kedekatan dengan kaum muslimin itu, dia bahkan kerap disapa sebagai Ngurah Agung Muslim.

    Ketika Bom Bali mengoyak ketenangan Bali dan memercikkan ketegangan antara umat Islam dan umat Hindu, ia membentuk Persaudaraan Hindu Muslim Bali (PMHB). Bom yang diledakkan para teroris dan mengatasnamakan agama itu juga bagai menyulut sekam antara pemeluk Hindu dan pemeluk Islam yang semula harmonis. Dalam tragedi ini, tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka. Korban yang jatuh tak hanya dari kalangan wisatawan asing, tapi juga warga setempat. Kehidupan ekonomi dan pariwisata Bali lumpuh.

    Retaknya hubungan umat Islam dengan umat Hindu Bali setelah pengeboman tersebut, menurut pengamat sosial Agung Putri, lantaran faktor ambruknya kehidupan ekonomi Bali. Pariwisata lumpuh karena cap teror dan tidak aman yang menempel pada Bali. “Kebetulan pelaku bom Bali adalah muslim sehingga muncul sentimen anti-Islam.”

    Seiring dengan pulihnya kehidupan ekonomi Bali sekitar 2009, sentimen atas agama Islam mulai pupus. Konflik-konflik yang tersisa antara warga muslim dan umat Hindu Bali saat ini kebanyakan masalah kawin campur dan motif ekonomi, serta tawuran anak muda yang dibengkokkan menjadi sentimen agama. (Baca: Inilah Lima Tokoh yang Merekatkan Indonesia)

    NIEKE INDRIETTA

    Berita Terkait:
    Bela Syiah-Ahmadiyah, Ini Tantangan Bupati Kholiq
    Syiah, Ahmadiyah, dan NU Hidup Damai di Wonosobo
    Bupati Kholiq, Perekat Syiah, Ahmadiyah, Minoritas
    Lian Gogali, Si Kristen Kawan Kombatan Muslim
    Lian Gogali Ubah Trauma Jadi Agen Perdamaian
    Tuan Guru Subki Lulusan Arab Saudi
    Subki Sasaki Tak Takut Bela Ahmadiyah


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Kecelakaan Tol Cipali Dipicu Bus yang Supirnya Diserang Penumpang

    Kecelakanan Tol Cipali melibatkan empat kendaraan beruntun di kilometer 150, Senin dinihari, 17 Juni 2019 dipicu serangan penumpang pada supir.