Selasa, 13 November 2018

Ini Kisah Yang Diajarkan di Sekolah Pembauran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sofyan Tan (kanan), pendiri sekaligus ketua Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, di Medan, Sumatera Utara. TEMPO/Tommy Satria

    Sofyan Tan (kanan), pendiri sekaligus ketua Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, di Medan, Sumatera Utara. TEMPO/Tommy Satria

    TEMPO.CO, Jakarta -  Sekolah pembauran Yayasan Sultan Iskandar Muda kini diakui sebagai tonggak pendidikan yang mengedepankan pentingnya hidup bersama di antara komunitas yang berbeda-beda etnis dan agama. Kurikulum sekolah ini unik karena menekankan pada cinta kasih, toleransi dan keberagaman.

    Sebuah contoh pengajaran yang khas sekolah ini diceritakan oleh Boimin Pama, seorang guru yang setia mengikuti Sofyan sejak sekolah multikultural itu didirikan. Boimin kini menjadi Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Sultan Iskandar Muda. Dalam setiap pelajaran, kata Boimin, para guru sedari awal selalu mencontohkan sebuah kasus dengan realitas keberagaman dalam masyarakat.

    Misalnya, kata Boimin, saat memahami pelajaran biologi, sejak tingkat sekolah dasar anak-anak sudah ditanamkan sebuah cerita soal keberagaman.  Sang guru bercerita kepada siswa soal seorang penanam pohon yang beretnis Jawa, yang dipekerjakan oleh seorang Tionghoa. Saat pohon itu tumbuh dan menghasilkan oksigen, ternyata tidak hanya bisa dinikmati sang majikan dan buruhnya, tapi juga siapa saja yang bernaung di bawah kerindangannya.  

    Pola ajar semacam itu, kata Boimin, sudah diinisiasi sendiri oleh Sofyan sejak sekolah ini didirikan. Hasilnya, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda mendapatkan penghargaan dari dunia internasional, serta dijadikan sebagai sekolah model di bidang pembauran dan pencegahan konflik. “Sebenarnya semua berjalan natural seperti sekolah biasanya. Tapi di sini sikap antidiskriminasi dilakukan, bukan hanya diucapkan,” kata dia.

    Saat Tempo hendak menyudahi lawatan di sekolah Sofyan, seorang siswi SMK tiba-tiba menghampiri Tempo. Saat yang lain berebut menyalami dan mencium tangan Sofyan, gadis muda ini berbisik, “Pak Sofyan mungkin tak kenal saya, tapi saya kenal dia sebagai orang baik, titip terima kasih saya untuk dia karena sudah membangun sekolah ini.”

    SANDY INDRA PRATAMA


    Berita Terpopuler:
    5 Teknologi yang Mengancam Manusia

    Ini Kronologi Aksi Gadis Pemotong 'Burung' 

    Sidang Kasus Cebongan, Hakim dan Oditur Ketakutan

    Mantan Napi Ungkap Kengerian Penjara Korea Utara

    Beragam Penyebab Rupiah Terjun Bebas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Ayah, Diprakarsai Bukan oleh Para Bapak

    Setiap tanggal 12 November kita memperingati Hari Ayah yang ternyata diprakarsai bukan oleh para bapak tapi oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi.