Tifatul Pilih Menteri Ngiklan Ketimbang Bayar Artis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tifatul SembiringTempo/Tony Hartawan

    Tifatul SembiringTempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring setuju dengan larangan kampanye oleh menteri dalam iklan layanan masyarakat. Namun menurut dia, kemunculan menteri dalam iklan di kementerian karena faktor tidak perlu membayar artis alias gratis.

    "Kalau sewa bintang kan perlu bayar lagi," kata Tifatul di kompleks parlemen, Senayan, Jumat, 16 Agustus 2013. Justru dengan memakai menteri sebagai bintang iklan, kementerian tak perlu mengeluarkan biaya. "Pakai menteri gratis."

    Tifatul mengatakan ada beberapa tapping yang dilakukan untuk sejumlah iklan. Misalnya, iklan terkait kenaikan harga bahan bakar minyak, televisi digital dan ucapan-ucapan. Bekas Presiden PKS ini mengaku sebenarnya tidak terlalu senang tampil sebagai bintang iklan.

    Dia sepakat ada larangan bagi pejabat negara agar tidak memanfaatkan fasilitas publik saat berkampanye. Namun Tifatul menuturkan, perlu peraturan yang lebih teknis untuk mengatur larangan ini. Tifatul mengaku sudah berkonsultasi dengan Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu ihwal adanya larangan ini.

    Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum melarang menteri dan pejabat negara yang kini maju menjadi calon anggota legislatif tampil dalam iklan layanan masyarakat yang disampaikan lewat semua media. Iklan program pemerintah yang dibiayai negara tak boleh digunakan sebagai sarana kampanye dan mempromosikan diri pejabat.

    WAYAN AGUS PURNOMO

    Topik terhangat:

    Suap SKK Migas
    | Sisca Yofie | Rusuh Mesir | Arus Balik Lebaran

    Berita lainnya:
    Hal Paling Ganjil Sebelum Sisca Yofie Tewas 

    Ini Laporan Kekayaan Rudi Rubiandini

    Perempuan dalam Pandangan Quraish Shihab

    KPK Sita 300 Ribu Dollar di Deposit Boks Rudi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.