Jumat, 16 November 2018

Kasus Fathanah Berlanjut di Pengadilan Tipikor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahmad Fathanah. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ahmad Fathanah. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta-Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) kasus suap daging Impor Nawawi menolak nota keberatan yang diajukan oleh tim pengacara Ahmad Fathanah.

    "Majelis Hakim menyatakan eksepsi terdakwa Ahmad Fathanah tidak diterima," kata Ketua Majelis Hakim Nawawi di Pengadilan Tipikor, Senin, 15 Juli 2013. Majelis Hakim memerintahkan Jaksa Penuntut Umum Muhibuddin untuk melanjutkan pemeriksaan.

    Pada persidangan sebelumnya, Ahmad Fathanah mengajukan eksepsi bahwa tindak pidana pencucian uang yang ia lakukan tidak bisa diadili Pengadilan Tipikor. Eksepsi ini disanggah oleh jaksa Guntur Ferry Fahtar yang berpendapat UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor mengizinkan kasus pencucian uang diadili di Pengadilan Tipikor.

    Sidang berikutnya akan digelar Senin mendatang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

    Ahmad Fathanah, tersangka kasus suap kuota impor daging sapi, ditangkap oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi pada Selasa malam, 29 Januari 2013 lalu di Hotel Le Meredien. KPK mengamankan uang senilai Rp 1 miliar yang diduga diterima Fathanah dari Direktur dan pemilik PT Indoguna Utama selaku importir daging yaitu Juard Effendi dan Arya Abadi Effendi. Uang itu rencananya akan diberikan kepada Luthfi Hasan Ishaaq guna meluluskan pengurusan izin kuota impor daging.

    FAIZ NASHRILLAH

    Terhangat:

    Hambalang Jilid 2 | Rusuh NabirePemasok Narkoba | Eksekutor Cebongan

    Baca juga:
    BlackBerry Z10 Kini Dibanderol Rp 990 Ribu

    Gaji Orang Tua, Separuh Lulusan SNMPTN UGM Bohong

    KPU Voting, Khofifah Gagal Lolos ke Pilgub Jatim

    Pemeran Finn Hudson Glee Ditemukan Tewas di Hotel


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.