PBB Anggap Yudhoyono Langgar Komitmen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Partai Bulan Bintang menganggap Susilo Bambang Yudhoyono melanggar komitmen dalam menyusun kabinetnya. Partai yang sejak awal mencalonkan duet Yudhoyono-Jusuf Kalla bersama Partai Demokrat serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia itu kini hanya mendapatkan jatah dua kursi menteri."Padahal, pada komitmen awalnya kami dijanjikan akan mendapatkan tiga sampai empat menteri," kata Sahar L. Hasan, Wakil Ketua Umum PBB, kemarin di Jakarta. Ia mengaku memperoleh informasi tentang jatah itu dari sang Ketua Umum Yusril Ihza Mahendra.Karena sejak awal ikut mencalonkan, kata Sahar, PBB adalah stake holder pasangan Yudhoyono-Kalla sehingga Yusril seharusnya ikut dilibatkan dalam penyusunan personel kabinet. Kenyataannya, menurut dia, Yusril hanya dilibatkan dalam penyusunan struktur semata.Sahar juga mempermasalahkan jatah menteri untuk "partai abu-abu", yakni partai-partai yang baru mendukung Yudhoyono belakangan seperti Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, dan Partai Kebangkitan Bangsa. "Mengapa mereka mendapatkan jatah yang sama dengan kami, yang sejak awal mendukung," kata dia.PBB juga keberatan dengan kewajiban Yusril untuk ikut mengikuti uji kelayakan menteri oleh Yudhoyono. Menurut Sahar, Yudhoyono, Kalla, dan Yusril sejak awal sudah saling mengenal. Yusril pekan lalu sudah mengungkapkan sendiri keberatan soal ini.PBB juga menyoroti sejumlah calon menteri yang telah dipanggil ke kediaman Yudhoyono, Puri Cikeas Indah, Bogor. "Kami merasa terkejut dengan masuknya orang-orang yang kami nilai tidak mampu memperbaiki perekonomian bangsa ini," kata Sahar. PBB sendiri mengajukan tiga nama calon yakni Sahar, M.S. Kaban (sekjen), dan Hamdan Zoelva (wakil sekjen). Sedangkan Yusril dianggap otomatis akan masuk kabinet. Untuk menentukan sikap terhadap Yudhoyono, kata Sahar, partai hari ini akan melakukan konsolidasi. "Tidak tertutup kemungkinan, kami akan mencabut dukungan kepada SBY (Yudhoyono," kata dia. Sehari sebelumnya, PKS juga telah "mengancam" Yudhoyono karena memasukkan tokoh yang diangggap pendukung Dana Moneter Internasional (IMF) dan tergolong konglomerat hitam. "Kalau warning kami itu tidak digubris, kami akan mengevaluasi (keberadaan dalam koalisi)," kata Penjabat Sementara Presiden Tifatul Sembiring (Koran Tempo, 17/10).Menghadapi keberatan-keberatan itu, Yudhoyono kemarin meminta masyarakat untuk memberikan fakta dan bukti hukum tentang para calon menteri yang dianggap bermasalah. Ia memahami munculnya tudingan terhadap calon dari kalangan pengusaha yang dianggap masih memiliki masalah hukum. Yudhoyono pun mengaku telah berkomunikasi dengan pejabat Perusahaan Pengelola Aset (pengganti Badan Penyehatan Perbankan Nasional) untuk mengetahui apakah seorang calon masih mempunyai masalah serius dengan hukum, keuangan negara, dan pajak. Ia menyatakan baru akan memilih jika calon dinyatakan tidak memiliki masalah.Tentang tudingan bahwa sejumlah calon pro-IMF, Yudhoyono mengatakan, pemilihan tidak ada kaitannya dengan lembaga keuangan internasional itu. Ia juga mengaku belum memikirkan untuk membuka kembali kerjasama dengan lembaga itu.Yudhoyono menilai, dalam politik praktis selalu ada kompleksitas seperti kebutuhan dan kepentingan pihak yang mengajukan calon. Menurut dia, ada tujuh partai yang mendukungnya dan kini mengajukan calon yakni Demokrat, PKPI, PBB, PKS, PAN, PKB, dan Partai Persatuan Pembangunan.Proses seleksi, kata Yudhoyono, tidak berlebihan karena yang dilakukan hanya komunikasi untuk mengetahui komitmen politik para calon. Karena itu, kata dia, semua calon akan dianggil ke kediamannya, termasuk Yusril Ihza.Sementara itu, tiga tokoh kemarin kembali hadir memenuhi undangan Yudhoyono. Mereka adalah E.E. Mangindaan, Suryadharma Ali, dan Anggito Abimanyu. Surya Dharma mengaku diundang melalui Letjen (Purn.) Sudi Silalahi, anggota tim Yudhoyono, menjelang magrib. Anggota DPR itu mengakui direkomendasikan menjadi menteri oleh partainya, bersama Ali Marwan Hanan, Endin A.J. Soefihara, dan Zarkasih Noer.Berbeda dengan kalangan politikus, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi kemarin menilai sejumlah tokoh yang dipanggil untuk mengisi pos ekonomi Yudhoyono bersahabat bagi dunia usaha. Ia menganggap, Aburizal Bakrie, Rachmat Gobel, dan Marie Elka Pangestu sesuai dengan bidang masing-masing. Yophiandi/M Nafi/Badriah/Budi S - Tempo

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.