Umat Islam di Malang Tuntut Tempat Hiburan Ditutup

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah massa ormas Islam saat melakukan sweeping dan sosialisasi penutupan tempat hiburan, di kawasan jalan Diponegoro, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (17/7). Sosialisasi ini sebagai anjuran penutupan tempat hiburan malam menyambut bulan Ramadan. TEMPO/Fully Syafi

    Sejumlah massa ormas Islam saat melakukan sweeping dan sosialisasi penutupan tempat hiburan, di kawasan jalan Diponegoro, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (17/7). Sosialisasi ini sebagai anjuran penutupan tempat hiburan malam menyambut bulan Ramadan. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Malang - Sekitar 900  umat Islam berunjukrasa menuntut penutupan tempat hiburan malam dan pembatasan minuman keras. Dalam aksinya pengunjukrasa yang tergabung dalam Barisan Satri dan Masyarakat Muslim Malang Raya ini menutup Jalan Raya Tugu depan Balaikota Malang, Senin 8 Juli 2013. "Tutup segala tempat hiburan selama bulan puasa," kata koordinator aksi Muhammad Ghozali dalam orasinya.

    Mereka meminta pemerintah agar bersikap tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan selama bulan suci Ramadhan. Jika pemerintah tak menghiraukan tuntutan itu massa mengancam akan menuntup paksa tempat hiburan malam  secara sepihak.

    Pengunjukrasa juga mendesak agar pemerintah mengambil sikap tegas terhadap maraknya penjualan minuman keras di minimarket. Apalagi menjual minuman keras dilarang sesuai Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 5 tahun 2006. "Prakteknya banyak supermarket yang menjual miras, ini jelas melanggar peraturan daerah," kata dia.

    Selain tidak sesuai peraturan daerah, penjualan minuman keras juga melanggar Peraturan Presiden nomor 3 tahun 1997. Penjualan minuman keras dikecualikan bila dilakukan di tempat khusus, yakni  hotel, bar, restoran dan tempat yang sudah ditetapkan oleh kepala daerah. "Peraturannya sudah jelas tapi masih banyak yang dilanggar," kata Ghozali.

    Ghozali memberi tenggat sampai bulan puasa. Bila masih banyak pelanggaran terhadap penjualan minuman keras massa  mengancam akan melakukan aksi penertiban dengan melibatkan unsur kepolisian, Majelis Ulama Indonesia dan Forum Kerukunan Umat Beragama.

    Aksi massa tersebut didukung oleh berbagai organisasi masyarakat seperti Jamaah Hidayatullah, Jamaah Ansharut Tauhid dan sejumlah jamaah lain di Malang. Mereka membetangkan poster dan spanduk  bertuliskan "Wahai wanita muliakan dirimu dengan menutup aurat"; "Berantas kemaksiatan, raih kemulyaan"; "Tutup tempat maksiat"; "Jangan nodai bulan Ramadan dengan kemaksiatan".

    Juru bicara Pemerintah Kota Malang, Ade Herawanto menyatakan menerima aspirasi massa. Mengenai penjualan miras katanya, disesuaikan dengan mekanisme dan aturan yang berlaku. "Selama bulan puasa tempat hiburan ditutup sesuai peraturan wali kota," katanya.

    EKO WIDIANTO



    Topik Terhangat
    Karya Penemu Muda
    | Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | Bencana Aceh

    Baca juga:
    Sambut Ramadan, Peziarah Makam Gus Dur Meningkat

    Haidar: Mari Jadikan Puasa Kita Puasa Spiritual

    Menteri Agama: Ada Kemungkinan Awal Puasa Berbeda

    Awal Ramadan, Gontor Tak Tunggu Pemerintah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.