Kopassus Penyerang Cebongan Dinilai Bukan Kesatria

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga dari 12 terdakwa anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan Kartasura, (dari kiri) Koptu Kodik, Serda Sugeng Sumaryanto dan Serda Ucok Tigor Simbolon mendengarkan kesaksian dari pegawai Lapas Cebongan, Indrawan Tri Widiyanto dalam sidang militer lanjutan di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Bantul  (2/7).  ANTARA/Sigid Kurniawan

    Tiga dari 12 terdakwa anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan Kartasura, (dari kiri) Koptu Kodik, Serda Sugeng Sumaryanto dan Serda Ucok Tigor Simbolon mendengarkan kesaksian dari pegawai Lapas Cebongan, Indrawan Tri Widiyanto dalam sidang militer lanjutan di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Bantul (2/7). ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Koordinator Indonesia Court Monitoring (ICM) yang memantau peradilan, Tri Wahyu, mempertanyakan kesungguhan sikap ksatria para terdakwa anggota Kopassus penyerang LP Cebongan.

    Menurutnya, mereka baru mengaku usai bertemu dengan Tim Investigasi TNI AD. “Kalau memang Kopassus benar-benar berjiwa ksatria, seharusnya terdakwa mengaku sejak awal. Usai mereka melakukan perbuatannya,” kata Tri Wahyu saat ditemui Tempo di persidangan, Rabu 3 Juli 2013.

    Sembilan dari 12 anggota Grup II Komando Pasukan Khusus (Kopassus)Kandang Menjangan memang baru mengakui perbuatannya sebagai pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Cebongan, Sleman, setelah Ketua Tim Investigasi TNI Angkatan Darat Brigadir JenderalTNI (CPM) Unggul K Yudhoyono datang ke Kandang Menjangan.

    Tim tiba di markas pada 29 Maret 2013 dan menggelar apel luar biasa pada 30 Maret 2013 pagi. “Pak Unggul bilang, kalau ada yang berbuat, silakan mengaku. Itu menunjukkan sifat ksatria. Kalau tidak, TNI semakin terpuruk,” kata Komandan Grup II Kopassus Letnan Kolonel Maruli Simandjuntak di ruang sidang Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Rabu 3 Juli 2013.

    Usai Unggul menyatakan hal itu, terdakwa Sersan Dua Ucok Tigor Simbolon langsung mengaku. Pengakuannya itu diikuti delapan terdakwa lain. “Para terdakwa langsung dipisahkan dari barisan. Sejak itu, kasus ditangani tim investigasi. Kami hanya memantau,” kata Maruli. Setelah dia tahu anak buahnya pelaku penyerangan, Maruli menemui Kepala Lapas Cebongan saat itu, B. Sukamto di Cebongan. Tujuannya, untuk meminta maaf.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


    Topik Terhangat:

    Tarif Progresif KRL
    | Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | PKS Didepak? | Puncak HUT Jakarta

    Berita Terpopuler:
    Wartawati Korban Pemerkosaan Mulai Terbuka ke Polisi

    PAN Tolak RUU Ormas, 'Pecat Besan!' 

    Rumah Banyak, Satu yang Jadi Favorit Djoko Susilo

    Agnes Monica Bantah Ubah Nama Jadi 'Montana' 

    Suswono: Bodohnya Pengusaha Bisa Dibohongi AF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.