Tim 11 Godok Lembaga Kepresidenan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebelas tokoh dan kalangan dekat presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono kemarin mematangkan konsep lembaga kepresidenan. Lembaga ini kelak akan berfungsi memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada presiden sebelum mengeluarkan kebijakan."Lembaga kepresidenan harus dapat berfungsi dengan baik, karena itu harus diisi oleh staf-staf yang profesional," kata Andi Mallarangeng, mantan Ketua Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan yang kini bertugas menjadi juru bicara di kediaman Yudhoyono, Cikeas, Bogor.Andi menyatakan, presiden adalah lembaga yang setara dengan Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, atau DPR dan MPR. Menurut dia, presiden bukanlah perorangan sehingga harus didukung suatu lembaga secara maksimal.Denny Januar Ali, anggota tim Yudhoyono, menjelaskan, lembaga itu juga dapat melakukan evaluasi atas kinerja kabinet. "Meski tidak mempunyai hak eksekutif, dapat memberikan masukan kepada presiden tentang pelaksanaan kontrak kerja antara para menteri dan presiden," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (nonaktif) itu.Lembaga itu, kata Denny, juga bisa memberi masukan kepada presiden tentang usaha menjalin hubungan dengan dunia internasional. Begitu juga hubungan kerja antara presiden dan lembaga negara lainnya. "Tidak kalah penting adalah menganalisis pendapat publik tentang kebijakan yang telah diambil presiden," kata dia.Ia menuturkan, akan ada ukuran-ukuran untuk menilai popularitas kepemimpinan Yudhoyono-Jusuf Kalla. Dalam sejarah Indonesia, menurut dia, setiap presiden awalnya dipuja, tapi dibenci atau bahkan dijatuhkan beberapa tahun kemudian. Jadi, kata dia, dibutuhkan tim yang memiliki "termometer" untuk mengetahui pandangan rakyat terhadap presiden.Lewat lembaga itu, kata Denny, presiden tidak hanya memiliki menteri yang membantu menjalankan seluruh program kerjanya tetapi juga tim yang bekerja 24 jam. "Kabinet akan jalan terus dengan tugas masing-masing, tapi Yudhoyono punya dapur yang terus menyuplai data, informasi, dan nasihat," tuturnya.Personalia lembaga kepresidenan, menurut Denny, adalah orang-orang kepercayaan Yudhoyono. Mereka adalah sejumlah pakar yang sudah lama bergabung dengan mantan Menko Polkam itu. Di antaranya, tim 11 yang terdiri atas Muhammad Lutfhi, Munawar Fuad Noeh, Joyo Winoto, Mayjen (Purn.) Djali Jusuf, Andi Mallarangeng, Dino Pati Djalal, Mayjen (Purn.) Irvan Edison, Chatib Basrie, Denny J.A., Kurdi Mustofa, dan Heru Lelono.Sumber yang terlibat dalam tim Yudhoyono menuturkan, nama-nama itu sebetulnya belum pasti masuk istana. Chatib, misalnya, disebutkan akan menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional. Yang jelas, sumber itu menyatakan, orang-orang itu memang bagian dari 22 orang yang diundang Yudhoyono dalam pertemuan di Halim Perdanakusuma beberapa waktu lalu. "Mereka disebut sebagai the best brain SBY," kata dia.Struktur lembaga kepresidenan kemarin dibahas Yudhoyono, Jusuf Kalla, Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra, dan mantan Panglima TNI Laksamana (Purn.) Widodo Adi Sutjipto. Menurut Andi, pertemuan ini juga mematangkan struktur kabinet yang kabarnya akan diumumkan hari ini.Dihubungi melalui telepon tadi malam, Andi mengatakan bahwa pembahasan mengenai struktur kabinet sudah mencapai 85 persen. Ia tidak bisa memastikan apakah struktur bisa diumumkan hari ini. Tentang posisinya kini, Andi mengaku diminta menjadi juru bicara sementara agar tidak terjadi informasi yang simpang siur.Sementara itu, rencana Yudhoyono memecah Departemen Perindustrian dan Perdagangan dinilai Rini M.S. Soewandi, menteri kabinet Megawati, akan menghambat kinerja pemerintah. Menurut dia, pembagian sumber daya manusia dalam pemecahan suatu departemen tidak bisa dilakukan dalam waktu pendek. Ia berpendapat, akan lebih baik membentuk menteri muda jika diperlukan.Sofyan Djalil, anggota tim Yudhoyono yang disebut-sebut diusulkan oleh Kalla untuk menempati pos baru itu, mengaku belum dihubungi siapa pun. "Saya tidak pernah berpikir untuk jadi menteri," kata dia. cahyo junaedy/ metta/budi s/muhamad nafi

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.