Produsen Film 5 cm Ditegur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Semeru tampak dari pos Watu Rejeng. TEMPO/Abdi Purmono

    Gunung Semeru tampak dari pos Watu Rejeng. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Malang-Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menegur Direktur PT. Soraya Intercine Films, produsen film 5 cm, yang berkantor di Jalan KH. Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta. Surat teguran dikirim tertanggal 20 Maret dan 16 Mei 2013, namun tidak ditanggapi. “PT Soraya melanggar surat izin masuk kawasan hutan konservasi," kata Kepala Balai Besar TNBTS Ayu Dewi Utari, Senin, 10 Juni 2013.

    PT. Soraya dinilai tidak mematuhi aturan yang berlaku selama syuting film. Syuting dilakukan hingga ke puncak Semeru, sedangkan izin hanya diberikan hingga kawasan kali mati atau vegetasi terakhir. "Kami tidak memberikan izin syuting di puncak."

    Logo Kementerian Kehutanan juga tidak dicantumkan dalam film itu. PT Soraya juga tak menyerahkan kopi film yang diproduksi. PT Soraya melayangkan surat balasan yang menyatakan akan memberikan film dalam versi DVD, serta meminta bentuk logo kementerian. Namun, surat balasan dianggap tak sesuai dengan teguran. Jika PT Soraya mengabaikan teguran, kata Ayu, Soraya akan terancam sanksi dilarang melakukan aktivitas syuting film di kawasan konservasi. "Korespondensi ditunggu sampai Agustus."

    Balai Besar TNBTS juga menerima laporan jika kru film menebang pohon untuk keperluan perapian selama syuting. Petugas tengah mengumpulkan bukti atas pelanggaran di kawasan konservasi itu.

    Ayu mengakui film 5 cm memiliki dampak negatif dan positif. Dampak positifnya, film itu menjadi promosi untuk kunjungan dan pendakian ke Semeru. Pendakian ke Gunung tertinggi di Jawa ini melonjak drastis. Sejak dibuka pada 25 Mei 2013 pengunjung mencapai 8 ribu orang.

    Tingkat kunjungan ini merupakan rekor tertinggi dibandingkan jumlah pengunjung sebelumnya. Namun, jika tak dibatasi akan mengancam kawasan konservasi mulai sampah dan kegiatan pendakian yang aman. "Jika tak diawasi bisa merusak alam di sekitar kawasan,” kata Kepala Seksi Konservasi Balai Besar TNBTS wilayah Ranupani, Sucipto.

    EKO WIDIANTO

    Terhangat:
    Priyo Budi Santoso | Rusuh KJRI Jeddah | Taufiq Kiemas


    Baca juga:

    Murdaya Poo: Isu PRJ Pisah dari JIExpo Itu Basi

    PKS: Menteri Kami Tak Ada Hubungan dengan Partai

    Jokowi Gantikan Megawati Terima Tamu

    Densus Ciduk Imam Masjid di Makassar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Kasus Rangga, Bocah Yang Cegah Ibu Diperkosa

    Pada Kamis, 15 Oktober 2020, tagar #selamatjalanrangga trending di Facebook dan Twitter.