Kisah Penjual Gorengan yang Anaknya di Jerman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pedagang kaki lima meramaikan kawasan taman Kanal Banjir Timur (BKT) pada sore hari di Duren Sawit, Jakarta Timur, (20/4). Tempo/Fardi Bestari

    Sejumlah pedagang kaki lima meramaikan kawasan taman Kanal Banjir Timur (BKT) pada sore hari di Duren Sawit, Jakarta Timur, (20/4). Tempo/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Watiyah, 61 tahun, terduduk di lantai 20 Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen Senayan. Mak Wati, begitu perempuan ini sedang menghitung lembaran uang pecahan Rp 2 ribu hingga Rp 100 ribu. Di depannya terdapat tiga kantong dagangan yang sudah dibungkus rapi. Dia bersiap pulang ke rumahnya di kawasan Cidodol, Kebayoran Lama. Jam baru menunjukkan pukul 1 siang. 

    "Alhamdulilah sudah mau habis," kata Mak Wati kepada Tempo di lantai 20 Gedung Nusantara I, Senayan, Rabu, 15 Mei 2013. Dia menunjuk dagangannya yang tandas tak bersisa. Tempo lalu memesan nasi sayur daun singkong ke Mak Wati. Nasi ini merupakan tiga makanan terakhir di lapak Mak Wati. Selain Tempo, ada juga sejumlah wartawan televisi yang menanti wawancara dengan Mak Wati. "Cieee, Mak jadi selebritis nih ye," seorang staf Fraksi PAN meledek. Mak Wati hanya tersenyum mesem-mesem mendengar celetukan ini.

    Mak Wati mungkin kaget dirinya tiba-tiba menjadi pusat perhatian media. Wajahnya terlihat lelah meskipun tetap tersenyum menjawab pertanyaan wartawan. Dia bercerita, sejak beberapa hari terakhir banyak telepon wartawan yang masuk ke telepon genggamnya. Kebanyakan permintaan wawancara mengenai sosoknya sebagai penjual gorengan dan anaknya, Riska Panca Widowati yang sedang sekolah di Jerman. "Informasi sebelumnya banyak yang salah," kata dia.

    Pada September 2011 putri bungsunya itu bercerita bahwa dia memperoleh beasiswa ke Jerman. Awalnya Mak Wati tak setuju putrinya itu meninggalkan Indonesia dan bertualang ke negeri orang sendirian. Dia beralasan, usia Riska masih terlalu muda untuk hidup sendiri di luar negeri. Riska menjadi penerima beasiswa unggulan Badan Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Nasional.

    Riska terdaftar di jurusan Bahasa Perekonomian Jerman dan Manajemen Pariwisata di Hochschule Konstanz, Jerman. Mak Wati pun bercerita ke pelanggannya di DPR. Dorongan pun diberikan oleh staf Sekretariat DPR. "Kesempatan tidak datang dua kali lho," kata Mak Wati menirukan omongan staf di DPR. 

    Selanjutnya: Keseharian Mak Wati


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.