Vitalia Shesya Terima Jam Tangan dari Fathanah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar komputer memperlihatkan foto Vitalia Shesya yang sedang berpose dalam majalah

    Layar komputer memperlihatkan foto Vitalia Shesya yang sedang berpose dalam majalah "Male Magazine". KPK telah menyita mobil Honda Jazz bernomor polisi B-15-VTA dan jam tangan mewah Chopard milik Vitalia. TEMPO/Ifa Nahdi

    TEMPO.CO, Jakarta -Tersangka kasus suap kuota impor daging sapi Ahmad Fathanah pernah memberikan hadiah berupa jam tangan pada teman dekatnya, bekas model Majalah Popular, Vitalia Shesya. Jam tangan merek Chopard itu bernilai jutaan rupiah.  "Nilainya Rp 70 juta," ujar sumber Tempo di lingkungan Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin, 6 Mei 2013.

    Kepada penyidik, Vitalia tidak secara terang-benderang menjelaskan maksud pemberian jam tangan itu. "(Sebagai) teman," kata sumber itu menirukan Vitalia.

    Nama Vitalia Shesya menyeruak setelah ia dihubung-hubungkan dengan Fathanah, tersangka kasus suap kuota impor daging sapi yang juga teman dekat mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaq. Ia diduga menerima aliran duit Rp 200-250 juta tahun lalu dan sebuah mobil mewah. Hingga kini, KPK masih menyelidiki motif pemberian hadiah pada model majalah dewasa tersebut.

    KPK sudah mengklarifikasi soal pemberian-pemberian ini. KPK menyatakan tengah menelaah barang-barang pemberian Fathanah pada Vita. Yakni berupa mobil merek Honda Jazz warna putih dan juga sebuah jam tangan mewah merek Chopard.

    FEBRIANA FIRDAUS

    Topik Terhangat:
    Pemilu Malaysia
    | Harga BBM | Susno Duadji | Ustad Jefry | Caleg


    Baca juga:

    Bos Pabrik Panci Pernah Jadi Bandar Pilkades
    Ini Kata Polisi yang Pernah ke Pabrik Panci 

    Buruh Pabrik Panci yang Disekap Layak Dapat Rp 1 M 

    Ruang Buruh Panci Lebih Buruk dari Sel Penjara  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.