Imigran Rohingya Disembunyikan di Pondok Pesantren

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa berdialog dengan para pengungsi Rohingya di Pauktaw, Rakhine State, Myanmar (7/1). (Dok: Biro Administrasi Menteri, Kementerian Luar Negeri)

    Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa berdialog dengan para pengungsi Rohingya di Pauktaw, Rakhine State, Myanmar (7/1). (Dok: Biro Administrasi Menteri, Kementerian Luar Negeri)

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Salah seorang pelaku penyelundupan imigran Rohingya, Iryanto Yahya Saka, 51 tahun, mengatakan, dia mengenal pengasuh Pondok Pesantren Nahdlotul Khodirin, Kiai Nuruddin dan Kiai Khoiruddin, sekitar bulan Maret lalu. "Kenal di Banyuwangi sebulan lalu," kata dia kepada wartawan di Mapolres Banyuwangi, Sabtu, 13 April 2013.

    Namun Iryanto menolak menjelaskan lebih detail tentang perkenalannya dengan pengasuh pesantren tersebut. Warga Desa Boni Boy, Kelapa Lima, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu hanya mengatakan bahwa dia meminta bantuan dua kiai itu untuk menampung 38 warga muslim Rohingya yang akan mencari suaka ke Australia.

    Pada Rabu lalu, 10 April0, Iryanto bersama tiga pelaku lainnya membawa 38 imigran ke pondok pesantren tersebut. Di pondok pesantren itu, mereka ditampung diam-diam sambil menunggu kapal datang. Kapal dipesan dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), seharga Rp 200 juta, dan akan dipakai untuk berlayar menuju Pulau Christmas, Australia.

    Namun, sebelum berangkat, polisi ternyata sudah mengendus rencana ini. Polres Banyuwangi lebih dulu menangkap Iryanto dan tiga orang lainnya saat menginap di Hotel Mirah, Jumat malam, 12 April 2013. Polisi kemudian menggerebek Pondok Pesantren Nahdlotul Khodirin pada Sabtu, 13 April 2013.

    IKA NINGTYAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.