Minggu, 21 Oktober 2018

Juana Wangsa Putri Menangis Setelah Tersingkir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Athena: Matanya merah dan berkaca-kaca. Tangannya pun sibuk menyapu pipi yang basah oleh air mata. Ketika didekati, atlet taekwondo Juana Wangsa Putri hanya bisa berbicara pelan dengan nada kecewa."Sedih ya sedih. Saya kecewa karena banyak tendangan yang nggak masuk. Mungkin ini sudah rencana Tuhan. Saya juga nggak tahu, tapi secara pribadi saya nggak puas," tuturnya.Harapan pada taekwondoin putri kelahiran Jakarta pada 13 Februari 1977 di arena Olimpiade Athena 2004 memang cukup tinggi. Maklum, ia pernah meraih medali emas dalam Turnamen Kualifikasi untuk Olimpiade di Paris, Desember 2003. Di Athena, Juana yang diharap menembus final cabang taekwondo kelas fin di bawah 49 kilogram, ternyata harus tumbang di babak pertama. Ia kalah tipis 2-3 dari taekwondoin Kolombia, Gladys Alicia Mora Romero."Saya kira Juana seharusnya bisa melewati atlet Kolombia itu," kata pelatih asal Korea Selatan, Oh Il-nam, sehari sebelum Juana tampil.Dalam pertandingan yang berlangsung di Sports Pavillion, Athena, kemarin, baik Juana maupun Mora Romero tampil berhati-hati dan kurang agresif. Keduanya tak mau kecolongan angka secara mudah.Kedua pemain bahkan sempat terkena hukuman kyongo di ronde pertama. Juana mencetak satu angka di ronde pembuka. Di ronde kedua, giliran Mora Romero yang meraih satu angka. Di ronde terakhir, baik Juana maupun Mora Romero sama-sama mencetak angka, namun taekwondoin asal Kolombia itu meraih dua angka penting dan memastikan diri melangkah ke babak perempat final. Di babak delapan besar ini, Mora Romero akhirnya disingkirkan atlet Cina Taipei Chen Shih Hsin dengan skor 2-0.Sementara itu, taekwondoin putra Satriyo Rahadani merasa kemenangannya yang sudah di tangan dirampas oleh wasit. Ketika ronde ketiga masih menyisakan 6 detik lagi, lawannya yang asal Inggris Paul Green mendapat tambahan satu angka, sehingga skor pun imbang 6-6."Di ronde pertama dan ronde kedua saya sudah memimpin terus. Saat itu saya merasa yakin bisa menang," kata Satriyo. "Malah di ronde terakhir saya bilang pada diri sendiri: 'Jaga dan jangan sampai kecolongan'.""Saya tampil enjoy saja dalam pertandingan. Cuma pada akhir ronde ketiga itu nggak jelas poin mana yang didapat dia (Paul Green). Tiba-tiba saja skor jadi sama enam," kata Satriyo.Menurut peraturan, jika kedua atlet meraih angka sama hingga babak penentuan berakhir, yang memiliki agresivitas lebih yang dinyatakan sebagai pemenang. Dalam pertandingan itu, Satriyo dianggap kurang agresif, sehingga dinyatakan kalah.Dengan tersingkirnya Juana dan Satriyo di babak pertama cabang taekwondo Olimpiade Athena 2004, berarti sirna pula harapan kontingen Indonesia untuk menambah medali. Mereka adalah atlet Indonesia terakhir yang masih berlaga di Athena. Apa boleh buat. firman atmakusuma (athena)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Misteri Kematian 10 Penentang Presiden Rusia Vladimir Putin

    Inilah 10 orang yang melontarkan kritik kepada Presiden Vladimir Putin, penguasa Rusia. Berkaitan atau tidak, mereka kemudian meregang nyawa.