Malam Jahanam di Cebongan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Lapas Kelas II B Cebongan. TEMPO/Suryo Wibowo

    Gedung Lapas Kelas II B Cebongan. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta -- Penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman, Sabtu, 23 Maret 2013, masih menyisakan banyak pertanyaan. Empat tahanan tewas dan dua sipir terluka dalam penyerangan itu. Malam jahanam di Cebongan. Laporan utama majalah Tempo edisi Senin, 1 April 2013, mengulas insiden Cebongan.

    Di sel blok A nomor 5, sejumlah tahanan menyeduh kopi dan teh, serta merebus mi instan. Mereka menyambut penghuni baru, Hendrik Angel Sahetapy alias Deki, orang yang tak asing di dunia hitam di Yogyakarta. Sebelum menghuni sel itu, Deki pernah dibui karena mengeroyok dan memerkosa.

    Bersama Deki, para penghuni penjara turut bersulang untuk Adrianus Candra Galaja alias Dedi, Yohanis Juan Manbait, dan Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu alias Adi. Keempatnya dikirim ke Cebongan karena mengeroyok Sersan Kepala Santoso, anggota Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat dari Grup II Kandang Menjangan, Kartasura, Jawa Tengah. Santoso meninggal saat dibawa ke rumah sakit tak lama setelah pengeroyokan di Hugo's Cafe.

    Meski disambut dan dipanggil "Abang" oleh sesama penghuni bui, Deki sesungguhnya cemas. Berkali-kali ia bertanya seputar penjagaan dan pengamanan penjara Cebongan kepada penghuni lama. Menurut sumber Tempo di penjara, malam itu, saat teman-temannya bermain kartu, Deki terdiam. Kepada seorang sipir, dia mengajukan pertanyaan tak lazim, "Di sini senjatanya lengkap, Pak?" Si sipir menjawab, "Lengkap. Ada laras panjang, laras pendek, bahkan senjata kejut."

    Penyerbuan efektif. Hanya berlangsung 15 menit. Banyak telunjuk mengarah ke Komando Pasukan Khusus Grup II Kandang Menjangan, yang bermarkas di Kartasura, Solo. Tapi Kepala Seksi Intel Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kapten (Infanteri) Wahyu Yuniartoto, menegaskan, tak ada anggota Kopassus yang keluar dari markas pada malam penyerbuan.

    Kepada Tempo, Wahyu menyatakan, pergerakan anggota Kopassus selalu terpantau karena di markasnya hanya ada satu pintu keluar-masuk. "Setiap anggota yang keluar selalu tercatat," ujar Wahyu. Bagaimana penyerangan profesional di Cebongan? Selengkapnya, baca majalah Tempo.

    Jajang Jamaludin | Sunudyantoro | Pito Agustin Rudiana | Shinta Maharani | M Syaifullah (Yogyakarta)

    EDISI KHUSUS Tempo: Guru Spiritual Seleb


    Berita Terkait:

    Sketsa Wajah Penyerang LP Cebongan Segera Disebar

    Komisi I: Penyerangan Cebongan Hampir Sempurna

    SBY Jadi Ketua Umum, Loyalis Anas Melemah

    Topik Terhangat: Serangan Penjara Sleman || Harta Djoko Susilo|| Nasib Anas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.