Jumat, 16 November 2018

Lihat Teman Satu Sel Didor, Napi Cebongan Trauma  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisan membawa empat kantong plastik berisi barang-barang pribadi milik keempat tahanan yang tewas keluar dari Instalasi Kedokteran Forensik, RSUD Dr. Sardjito, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3). Barang-barang tersebut serta hasil autopsi akan dibawa kepada penyidik untuk pengungkapan kasus penyerbuan oleh segerombolan orang bersenjata pada Sabtu (23/3) dini hari yang menewaskan keempat tahanan titipan di Lapas II B Cebongan Sleman. TEMPO/Suryo Wibowo

    Petugas kepolisan membawa empat kantong plastik berisi barang-barang pribadi milik keempat tahanan yang tewas keluar dari Instalasi Kedokteran Forensik, RSUD Dr. Sardjito, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3). Barang-barang tersebut serta hasil autopsi akan dibawa kepada penyidik untuk pengungkapan kasus penyerbuan oleh segerombolan orang bersenjata pada Sabtu (23/3) dini hari yang menewaskan keempat tahanan titipan di Lapas II B Cebongan Sleman. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sebanyak 31 tahanan yang berada di Blok A5 (Anggrek nomor 5) di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan di Kabupaten Sleman mengalami trauma. Mereka tertegun setelah menyaksikan penembakan empat orang tahanan, teman satu sel mereka, oleh kawanan bersenjata pada Sabtu dinihari lalu.

    "Mereka shocked. Ada yang diam, terlihat melamun, penuh tanda tanya apa yang telah terjadi," kata Kepala Lapas Cebongan B. Sukamto saat ditemui di Lapas Cebongan, Minggu, 24 Maret 2013.

    Empat tahanan yang ditembak mati itu adalah Hendrik Angel Sahetapy, Adrianus Candra Galaga, Yohanes Yuan Manbait, dan Gamaliel Yemitarto Rohi Riwu. Keempatnya tahanan titipan dari Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Korban penembakan di dalam sel ini merupakan tersangka kasus penusukan anggota TNI Angkatan Darat Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan Kartasura, Sersan Satu Santoso, di Hugo’s Cafe di Jalan Adisutjipto Kilometer 8,5, Kabupaten Sleman, pada 19 Maret lalu. Santoso tewas dengan luka tusuk pada bagian dada sebelah kiri. Kematian Santoso inilah yang memicu horor dini hari itu.

    Saat penembakan terjadi ada 35 orang berstatus tahanan yang berada di dalam ruang sel tersebut. Empat tersangka pengeroyokan Santoso itu disuruh berkumpul, lalu ditembak oleh salah seorang dari kawanan itu. Begitu cepat, hanya lima menit, lalu para pelaku meninggalkan sel.

    Ketakutan juga dirasakan oleh sepuluh 10 sipir yang berjaga saat peristiwa penembakan terjadi itu. Menurut salah satu sipir yang berjaga malam itu, Supratikno, delapan sipir terluka karena dianiaya oleh kawanan bersenjata itu dengan pukulan tangan hingga dipopor senapan.

    Sukamto mengatakan, untuk penyembuhan mental para tahanan dan sipir itu, ia mengumpulkan tahanan tersebut pada Sabtu pagi usai insiden. "Kami yakinkan, kejadian serupa tak akan terjadi lagi. Keamanan mereka kami jamin," kata dia.

    Upaya lainnya, Sukamto menambahkan, para sipir dan tahanan itu mendapatkan pendampingan psikolog, psikiater, dan siraman rohani dari tokoh agama. "Sipir yang berjaga kami liburkan sehari. Kami ganti dengan regu lainnya," kata Sukamto. Cara ini setidaknya ampuh meredakan ketegangan dan mengurangi kecemasan keluarga.

    PITO AGUSTIN RUDIANA

    Berita terpopuler
    Jokowi Lambungkan Elektabilitas PDI Perjuangan

    Partai Demokrat Juara Partai Korup 

    Dahlan Iskan Calon Favorit Ketua Umum Demokrat

    Korban Penipuan Internet, Manajer Hingga Profesor

    Elektabilitas Demokrat Tinggal 4,3 Persen 

    Prabowo Larang Kader Gerindra Ikut Demo Besok 


     

     

    Lihat Juga