Dahlan Iskan Masuk Nominasi Ketua Umum Demokrat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN, Dahlan Iskan. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    Menteri BUMN, Dahlan Iskan. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menjadi calon Ketua Umum Partai Demokrat paling favorit pilihan publik. Tingkat elektabilitas Dahlan mencapai angka 24,2 persen unggul, jauh dari sejumlah tokoh yang dijagokan menjadi ketua umum.

    "Kalau yang terpilih ketua umum pilihan masyarakat, elektabilitas Demokrat bisa naik," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional, Umar S. Bakry, saat pemaparan hasil survei, Ahad, 24 Maret 2012.

    LSN mengadakan survei pada 26 Februari-15 Maret 2013 di 33 provinsi dengan jumlah responden sebanyak 1.230 orang. Survei dilakukan dengan metode teknik pencuplikan rambang berjenjang dan proporsional terhadap jumlah penduduk di setiap provinsi.

    Simpangan kesalahan survei sebesar 2,8 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka serta berpedoman pada kuesioner. Survei ini dilengkapi dengan wawancara mendalam dan analisis media.

    Di urutan kedua ditempati oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md. Sebanyak 15,4 persen publik menginginkan agar Mahfud menjadi pemimpin Demokrat. Dua kader Demokrat, Ani Yudhoyono dan Marzuki Alie, menempati posisi ketiga dan keempat dengan tingkat keterpilihan 8,5 persen dan 6,9 persen.

    Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa hanya diinginkan oleh sebanyak 0,2 persen publik untuk menjadi ketua umum. Sejumlah kader lain juga tingkat elektabilitasnya sangat kecil, misalnya Hayono Isman sebesar 2,4 persen; Jero Wacik 1,9 persen; Edhie Baskoro Yudhoyono 1,6 persen, Amir Syamsudin 1,4 persen, dan Syarief Hasan 0,2 persen.

    WAYAN AGUS PURNOMO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.