Tragedi Cebongan, Sultan Cemas Keselamatan Mahasiswa NTT  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Yogyakarta -Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengku Buwono X mengkhawatirkan keselamatan mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kuliah di Yogyakarta. Alasannya, keempat korban penembakan brutal yang dilakukan kawanan bersenjata di sel Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, pada Sabtu dinihari, 23 Maret 2013, adalah warga NTT yang tinggal di Yogyakarta.

    "Ngarso Dalem sempat menanyakan lewat telepon, bagaimana mahasiswa kami? Lalu Ngarso Dalem diyakinkan kalau anak-anak di sini dijamin aman. Jadi sudah dijamin oleh Pangdam IV Diponegoro Mayor Jenderal Hardiyono Saroso melalui Ngarso Dalem," kata Kepala Kepolisian Daerah DIY Brigadir Jenderal Sabar Rahardja saat ditemui di Lapas Cebongan, Sabtu, 23 Maret 2013. Ngarso Dalem adalah sapaan untuk Sultan.

    Sebelumnya, Sultan berencana akan menggelar pertemuan yang melibatkan polisi, TNI, mahasiswa, dan organisasi masyarakat pada Rabu pekan depan, 27 Maret 2013. Pertemuan tersebut dilatarbelakangi dua kasus kekerasaan terhadap dua anggota TNI yang terjadi dua hari berurutan.

    Kasus pertama adalah pengeroyokan terhadap Sersan Satu Santosa, anggota TNI AD dari satuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kandang Menjangan, Kartasura. Pengeroyokan itu terjadi di Hugos Cafe, Yogyakarta, pada 19 Maret. Empat tersangka pengeroyokan diketahui berasal dari NTT yang kemudian ditembak di dalam Lapas Cebongan. Mereka adalah Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, Adrianus Candra Galaga, Yohanes Juan Mambait, dan Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu. (Baca: Kronologi penyerangan)

    Kasus kedua menimpa prajurit Kodim 0734 Yogyakarta Sertu (Inf) Sriyono yang mengalami luka bacok di kepala saat melerai keributan di Jalan Dr. Soetomo Yogyakarta pada 20 Maret. "Saya enggak tahu mengapa. Ini mendekati Pemilu. Saya tidak mau mereka, warga NTT, digunakan untuk kekuatan-kekuatan yang menimbulkan instablitas," kata Sultan pada 21 Maret lalu.

    Kepala Kepolisian Resor Sleman Ajun Komisaris Besar Polisi Hery Sutrisman mengatakan, pasca insiden penembakan keempat tahanan titipan Polda DIY tersebut, pertemuan dengan Sultan akan tetap dilangsungkan pada 27 Maret. Pertemuan tersebut akan digelar di kantor Polres Sleman di Jalan Magelang. "Kami akan bahas soal sinergitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Bahwa itu bukan tugas salah satu institusi, tapi tugas bersama," kata Hery.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?