Rabu, 14 November 2018

Kericuhan Warnai Penobatan Pangeran Emirudin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Cirebon:Penobatan Pangeran Emirudin sebagai Sultan Kanoman XII yang berlangsung Kamis (6/3) siang diwarnai aksi pelemparan tombak dan perusakan mobil. Penobatan itu semakin membuat kesultanan terpecah, karena kemarin malam, Pangeran Saladin dilantik menjadi Sultan Kanoman XII. Kericuhan itu sendiri diawali dengan datangnya Ratu Mawar, adik Sultan Saladin. Dia membacakan maklumat bahwa penobatan Emirudin tidak sah dan menentang wasiat serta titah dari mendiang Sultan Kanoman XI. Setelah itu dia merebut tombak dari salah satu punggawa dan melemparkannya ke aparat keamanan. Usai acara penobatan, sekelompok orang dari kubu Emirudin menghadang mobil yang ditumpangi Ratu Mawar dan pacarnya, Teddy Michael. Dengan emosi mereka memukul-mukul mobil tersebut sehingga kaca belakang rusak. Mereka mengecam aksi Ratu Mawar dan campur tangan Teddy yang tidak termasuk famili Kanoman. Bahkan ia sempat mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan di areal Keraton, ujar tutur Elang Fajar. Kepada Tempo News Room, Sultan Saladin mengatakan dirinya tidak mengakui penobatan adiknya sebagai Sultan Kanoman. Jadi penobatan tersebut saya anggap tidak ada, katanya. Saladin mengaku memiliki pegangan kuat yakni surat wasiat yang ditandatangani langsung oleh Sultan Djalaluddin, Sultan Kanoman XI. Pihak Sultan Emirudin sendiri mengklaim bahwa penobatannya didukung oleh 247 kerabat keraton lainnya. Dalam maklumat yang ditandatangani tiga sesepuh, Pangeran Redman Hakim, Pangeran Pangeran Agus Djoni, dan Elang Machmudin tercantum bahwa demi menjunjung tinggi adat dan tradisi Keraton Kanoman maka ke-247 kerabat Keraton memilih Pangeran Emirudin sebagai Sultan Kanoman XII pengganti Sultan Kanoman XI. Alasan utama maklumat tersebut adalah hukum adat istiadat dan tradisi yang menyebutkan Sultan Kanoman adalah putra pertama dari garwa ratu atau darah biru. Oleh karena itu, penunjukan Saladin sebagai pengganti almarhum Djalaludin dalam surat wasiat yang ditinggalkan almarhum sangat bertentangan dengan adat dan tradisi, karena yang bersangkutan dari garwa ampean atau selir. Untuk itu secara otomatis segala hal yang menyimpang dianggap tidak ada da tidak berlaku, ujar ketiganya. (IvansyahTempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?