Kecil Kemungkinan Jokowi Nyapres Lewat PDIP  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi). TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia menyatakan, kemungkinan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pemilu 2014 sangat kecil. PDI Perjuangan diperkirakan masih akan mengajukan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden.

    "Sulit membayangkan Jokowi mendapatkan restu dari internal PDI Perjuangan," kata peneliti Lingkaran Survei Indonesia, Adjie Alfaraby, saat pemaparan hasil survei di kantornya, Jakarta Timur, Ahad, 17 Maret 2013.

    Lingkaran menyatakan, survei berlangsung pada 1-8 Maret 2013 dengan metode multistage random sampling. Total responden sebanyak 1.200 orang dengan tingkat kesalahan sebesar 2,9 persen. Adjie mengklaim survei ini dilakukan dengan dana sendiri. Survei ini dilengkapi dengan riset kualitatif, yakni diskusi kelompok terfokus dan analisis media. (Baca: Survei Capres, Jokowi Dianggap Tokoh Sederhana)

    Berdasarkan hasil survei Lingkaran, PDI Perjuangan memperoleh 18,8 persen suara. Partai banteng berada di posisi kedua di bawah Partai Golkar, yang memperoleh 22,2 persen suara. Adjie berasumsi, jika syarat pencalonan presiden tidak berubah, yaitu 20 persen kursi parlemen, PDI Perjuangan membutuhkan koalisi dengan partai lain. "Megawati masih sangat kuat sebagai calon presiden," kata dia.

    Adjie mengingatkan, pada Pemilu 2004 dan 2009, calon presiden selalu berasal dari pejabat struktural partai politik. Misalnya, Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan atau Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Dalam survei ini, kata dia, calon presiden yang disurvei berasal dari pejabat struktural ini. Inilah yang menurut Adjie menjadi alasan mengapa Jokowi hanya ditempatkan sebagai calon wakil presiden dalam simulasi survei. "Selain itu, belum ada pernyataan tegas dari PDI Perjuangan soal dukungan kepada Jokowi sebagai calon presiden," kata dia. (Baca: Alasan Jokowi Disurvei Bukan sebagai Capres)

    Di sisi lain, Golkar yang memperoleh lebih dari 20 persen suara dinilai lebih leluasa menentukan calon wakil presiden. Golkar, kata Adjie, sudah memastikan akan mengusung Ketua Umum Aburizal Bakrie sebagai calon presiden. Berdasarkan pengalaman Pemilu 2004 dan 2009, Adjie memperkirakan, Golkar akan mencari tokoh dari non-partai untuk mendampingi Aburizal.

    Dia menjelaskan, ada dua nama yang dianggap berpotensi mendampingi Aburizal, yaitu Joko Widodo dan Mahfud Md. Menurut Adjie, pilihan ini akan selaras dengan calon presiden dan wakilnya dengan komposisi Jawa dengan non-Jawa. Jika Jokowi bersedia, dia yakin Golkar pasti akan memilih Gubernur DKI Jakarta ini.

    WAYAN AGUS PURNOMO

    Berita Lainnya:
    Jangan Umbar Status dan Foto di Media Sosial
    X Factor, Penampilan Fatin Menuai Perdebatan Juri
    Alumni Pemuda Pancasila Jadi Menteri dan Politikus
    Si Conat, Preman Betawi Era VOC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.