Gerakan Anti-Putus Sekolah Dimulai Tahun Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak berangkat sekolah dari tempat kerja ibunya yang menjadi buruh pengupas kerang di Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (7/2). Pemerintah menargetkan penurunan angka kemiskinan pada 2013 menjadi 9,5-10,5 persen dibanding posisi September 2011 sebesar 12,36 persen dari jumlah penduduk Indonesia. TEMPO/Dwianto Wibowo

    Seorang anak berangkat sekolah dari tempat kerja ibunya yang menjadi buruh pengupas kerang di Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (7/2). Pemerintah menargetkan penurunan angka kemiskinan pada 2013 menjadi 9,5-10,5 persen dibanding posisi September 2011 sebesar 12,36 persen dari jumlah penduduk Indonesia. TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana mencanangkan gerakan anti putus sekolah pada tahun ajaran baru 2013/2014. Menurut juru bicara Kementerian Pendidikan, Ibnu Hamad, gerakan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah angka anak putus sekolah.

    "Dalam Kegiatan Rembuk Nasional Pendidikan (Rembuknas), kami akan berkoordinasi dengan kepala dinas pendidikan provinsi dan suku dinas kabupaten atau kota seluruh Indonesia," kata Ibnu ketika dihubungi Ahad, 11 Februari 2013.

    Menurut Ibnu, kerjasama perlu dilakukan dengan daerah karena mereka yang mempunyai data angka putus sekolah. Program ini menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara yang berupa Bantuan Siswa Miskin. Namun ia mempersilahkan jika daerah juga menganggarkan untuk program ini.

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Sabtu kemarin di Banjarmasin mengakui angka putus sekolah di Indonesia masih tinggi. Nuh menjelaskan, pada tahun 2007, dari 100 persen anak-anak yang masuk SD, yang melanjutkan sekolah hingga lulus hanya 80 persen, sedangkan 20 persen lainnya putus sekolah.

    Dari 80 persen yang lulus SD, hanya sekitar 61 persen yang melanjutkan ke SMP maupun sekolah setingkat lainnya. Kemudian dari jumlah tersebut, yang sekolah hingga lulus hanya sekitar 48 persen. "Ini jumlah yang sangat memprihatinkan, mengingat pendidikan SD-SMP merupakan pendidikan dasar yang seharusnya dimiliki oleh seluruh generasi muda Indonesia saat ini," kata Menteri Nuh.

    Sementara itu, dari 48 persen tersebut, yang melanjutkan ke SMA tinggal 21 persen dan berhasil lulus hanya sekitar 10 persen. Sedangkan yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya sekitar 1,4 persen. Mencermati ini, Nuh berencana akan melaksanakan program gerakan antiputus sekolah bagi pelajar sekolah dasar hingga sekolah menengah atas melalui pemberian beasiswa secara terus-menerus.

    Program tersebut, kata Nuh, antara lain dengan memberikan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin mulai SD hingga SMP bahkan SMA. Selama ini, anak-anak yang mendapatkan beasiswa di SD masih merasa khawatir kalau melanjutkan ke SMP atau SMA, tidak memiliki jaminan mendapatkan beasiswa kembali.

    Bantuan Siswa Miskin untuk tahun ini akan dibagikan ke sekitar 14,3 juta siswa/mahasiswa, dan memberikan beasiswa prestasi bagi sekitar 220 ribu siswa/mahasiswa. "Anggaran BSM inilah yang akan digunakan untuk program anti putus sekolah," kata juru bicara kementerian, Ibnu Hamad.

    SUNDARI | ANTARA

    Berita terpopuler lainnya:
    Mahasiswi UI Tewas Setelah Loncat dari Angkot

    Pendiri Akui PKS Memang Ikhwanul Muslimin

    Status Hukum Anas, Ini Respons Hidayat Nur Wahid

    Peruntungan di Tahun Ular Air

    Yusuf Supendi: Anis Matta itu Pintar, Tapi...

    Kader PKS Juga Pernah Bermasalah Soal Perempuan

    Seks Online, IPB Belum Pastikan HFI Mahasiswanya

    Orang Ini Bisa Selamatkan Partai Demokrat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.