Tak Mau Dibilang Sombong, Maharani Temui Fathanah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Maharani Suciyono (Tengah) didampingi Kuasa Hukumnya Wisnu Wardhana (Kiri) dalam jumpa pers di Hotel Nalendra, Jakarta Timur, Selasa 5 Februari 2013. TEMPO/Dhemas reviyanto

    Maharani Suciyono (Tengah) didampingi Kuasa Hukumnya Wisnu Wardhana (Kiri) dalam jumpa pers di Hotel Nalendra, Jakarta Timur, Selasa 5 Februari 2013. TEMPO/Dhemas reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta -Meski belum mengenal Ahmad Fathanah, Maharani Suciyono, 19 tahun, tidak ragu untuk mengiyakan ajakan Fathanah untuk bertemu di Hotel Le Meridien pada Selasa 29 Januari lalu. Alasannya supaya tidak dibilang sombong. (Baca: kronologi pertemuan)

    "Karena saya berfikir positif biar enggak dibilang sombong, saya temuin. Masa kenalan saja tidak boleh. Tapi saya tidak memiliki niat sedikit pun untuk mencari keuntungan dalam perkenalan itu," ujar Rani, sapaan Maharani, dalam jumpa pers di Hotel Nalendra, Jakarta Timur, Selasa malam, 5 Februari 2013.

    Saat melakukan konferensi pers, Rani mengenakan pasmina berwarna orange yang dibalutkan di kepala hingga ke badannya. Tidak tampak sang ibu menemani Rani. Ia hanya di dampingi ayahnya dan kuasa kukumnya, Wisnu Wardana.

    Pertemuan Rani dengan Fathanah itu pada akhirnya membuat mahasiswi sebuah universitas swasta itu sempat berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Fathanah kini ditahan KPK atas dugaan suap impor daging sapi. Sementara Rani juga sempat dimintai keterangan komisi antirasuah sebelum akhirnya dibebaskan. Namun uang Rp 10 juta dari Fathanah pada Rani disita KPK.


    AFRILIA SURYANIS



    Berita populer:

    Anas Diganti Ibas, Kata Ruhut
    Begini Raffi Tanggapi Isu Rekayasa BNN
    Abraham Samad Tak Pernah Jadi Caleg PKS
    Diduga Gelapkan Pajak, Apa Kata SBY?
    Kubu SBY Bermanuver, Anas Terdesak?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.