Kisah Penguntitan Sapi Berjenggot hingga Maharani

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Luthfi Hasan Ishaaq (tengah). TEMPO/Seto Wardhana

    Luthfi Hasan Ishaaq (tengah). TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta--Seperti target radar, semua sasaran telah terkunci dalam pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi. Lewat tengah hari, Selasa pekan lalu, satuan tugas Komisi menguntit Ahmad Fathanah, pengusaha asal Makassar. Pria 47 tahun itu menuju Senayan, gedung Dewan Perwakilan Rakyat.

    Majalah Tempo edisi Senin 4 Februari 2013 kembali menurunkan laporan utama Suap Sapi Berjenggot. Majalah Tempo pernah menerbitkan laporan utama soal sapi ini pada Maret 2011, bertajuk "Main Daging Pentolan PKS". Dua bulan kemudian, Tempo menulis laporan berjudul "Sekali Lagi ‘Daging Berjanggut’”.

    Berangkat dari apartemen Margonda Residence, Depok, tempat tinggal Ahmad, Land Cruiser Prado hitam yang ia tumpangi berhenti di depan Gedung Nusantara III. Pengintai tahu Ahmad hendak menemui Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden Partai Keadilan Sejahtera, yang menjadi anggota Dewan di Komisi Pertahanan. Keduanya terikat hubungan panjang, baik di bisnis maupun gerakan agama. Sebelum bertemu, mereka berkomunikasi melalui telepon.

    Menembus lalu lintas Jakarta yang padat, sekitar pukul 16.00, Ahmad tiba di kantor Indoguna, bangunan berpagar tinggi. Dua anggota direksi perusahaan itu, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendy, telah menanti. Dua tas plastik segera berpindah tangan. Ahmad meminta sopirnya menaruh dua “titipan” itu--menurut KPK, isinya Rp 1 miliar, terdiri atas uang kertas Rp 100 ribuan--di bagian belakang mobil.

    Meninggalkan kantor Indoguna, mobil Ahmad meluncur menuju Jalan Jenderal Sudirman. Ia mengarah ke Hotel Le Meridien, dan tiba menjelang matahari terbenam. Turun di lobi hotel bintang lima itu, Ahmad merasa perlu bekal. Ia merogoh plastik, mengambil dua bundel uang--tiap bundel berisi Rp 10 juta.

    Seorang perempuan muda menyambut--belakangan diketahui bernama Maharani. Keduanya naik lift menuju kamar. Dua penyidik, yang tak mau kehilangan sasaran tapi tak memiliki kunci kamar sebagai pembuka akses, buru-buru melompat ke tangga mekanik itu. Penguntit dan sasarannya meluncur bersama, menuju lantai atas.

    Ahmad dan Maharani masuk kamar. Penguntitnya tak meneruskan langkah meski target tetap dalam jangkauan. Semua gerak-gerik terhubung ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Pemimpin lembaga itu terus mengendalikan "operasi tangkap tangan" ini. Bagaimana kelanjutan penguntitan ini? Ikuti laporan utama Majalah Tempo.

    SETRI YASRA. AKBAR TRI KURNIAWAN, TRI SUHARMAN, FEBRIYAN, ANANDA BADUDU


    Baca juga:

    Yusuf Supendi: Konspirasi Suap Daging, PKS Mabuk
    Luthfi Diduga Berperan Besar Soal Suap Daging
    Kementerian Pertanian Dituding Tahu Ada Permainan
    Spanduk Sapi, Anis Matta: Kami Bukan Makhluk Suci


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.