Jumat, 16 November 2018

Banjir Bandang Kota Maros, Ribuan Rumah Terendam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Ilustrasi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Maros -- Banjir bandang yang melanda Kota Maros sejak kemarin sore baru mulai surut hari ini, Ahad siang, 6 Januari 2013. Beberapa ruas jalan di dalam kota sudah dapat dilalui kendaraan sehingga kemacetan panjang kendaraan sudah mulai berjalan normal.

    Meski demikian, sejumlah daerah masih digenangi air. Ribuan rumah juga masih dalam kondisi terendam air. "Kami belum bisa memastikan kerugian materiil dari bencana ini. Yang pasti, ribuan rumah masih terendam," kata Bupati Maros, H.M. Hatta Rahman.

    Selain menggenangi jalan protokol yang merupakan jalan penghubung Maros-Pangkep dan Bone, air juga merendam halaman kantor bupati setinggi 50 sentimeter, kompleks perumahan, pasar tua, permukiman Butta Toa, Perumnas Tumalia, BTN Panritabola, BTN Rejana, dan sepanjang bantaran Sungai Maros.

    Meski air mulai surut, Hatta menyatakan, kota tersebut kini masih dalam posisi siaga 1. "Kami tengah menyalurkan bantuan berupa mi instan, air minum gelas, dan beras kepada korban. Jumlah bantuan akan terus disalurkan sepanjang korban banjir masih membutuhkan," kata Hatta.

    Camat Turikale, Andi Rosman, mengatakan, di wilayahnya ada enam kelurahan yang terendam air, di antaranya Kelurahan Adatongen, Raya, Alititengae, Bori Bellaiya, Pettuadae, dan Kelurahan Turikale, dengan total rumah yang terendam 5.892 rumah. "Khusus di Kelurahan Boribellaia, ada lima lingkungan yang terisolasi dengan 800 kepala keluarga, dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter," kata Rosman.

    Di beberapa daerah yang dilanda banjir di Maros, di antaranya Kecamatan Tompobulu Desa Tombolo, Kecamatan Camba, Simbang, Kecamatan Lau, Maros Baru Bantimurung, dan Kecamatan Maros Baru, belum diketahui jumlah pasti rumah yang terendam.

    Adapun kondisi arus lalu lintas di Maros Bone sudah mulai normal. Kepala Kepolisian Resor Maros, Ajun Komisaris Besar Cornelis Ferdinan Hotman Siraid, mengatakan, penyebab kemacetan akibat longsor di lima titik di wilayah hutan Karaenta, sehingga ruas jalan tertutupi tanah, sementara di Kota Kecamatan Camba terjadi banjir bandang. "Kondisi arus lalu lintas saat ini sudah kembali membaik, kecuali jalur Trans Maros Pangkep, masih terjadi kemacetan sekitar 10 kilometer. Persoalan jalan masih digenangi air sehingga banyak kendaraan pribadi yang masih ragu melintasi jalan itu," kata Hotman.

    Selain itu, Sabtu malam, juga terjadi pohon dua titik pohon tumbang hingga membuat kemacetan diantaranya pohon tumbang di Poros Camba dan Poros Bantimurung", karena kondisi ruas jalan yang juga longosor di wilayah hutan karaenta itu hanya sebagian badan jalan yang dapat dilalui maka, kami mengatur lalu lintas kendaraan dengan sistem bukan tutup", kata Hotman.

    Hotman mengaku, dengan ditetapkannya Maros menjadi siaga 1, maka seluruh polsek dan jajaran koramil dan sukarelawan dikerahkan untuk membantu mengevakuasi korban banjir. "Di setiap polsek ada 20 personel yang kami siagakan dari 14 kecamatan. Polres sendiri telah kami turunkan 250 personel yang bergerak mengevakuasi korban khusus di dalam kota, juga dilakukan pengamanan sepanjang jalan poros Maros Pangkep dan Bone," kata dia.

    Semua warga yang kini kehilangan tempat tinggal sebagian diungsikan ke kantor Bupati Maros, yang dijadikan sebagai posko induk penanggulangan bencana. Salah seorang korban, Dg Maulana, 34 tahun, warga Butta Toa, Kelurahan Turikale, mengaku, tanpa ada pertolongan dari tim sukarelawan menggunakan perahu karet, ia tidak akan bisa menyelamatkan tiga anak dan istrinya.

    "Sekarang air sudah merendam. Rumah saya sisa tampak atapnya saja. Tidak ada harta benda yang saya selamatkan, kecuali pakaian di badan, serta anak dan istri saya," kata Maulana, yang mengaku sudah tidak punya harta benda lagi karena hanyut entah ke mana.

    Ketinggian lebih dari 2 meter di rumahnya. Ia berhasil dievakuasi sekitar pukul 21.30 Wita, Sabtu malam. "Sempat terjebak di dalam rumah kurang-lebih 3 jam, namun untung ada tim penolong menyelamatkan korban yang terseret air, yang sementara tersangkut di belakang rumah, makanya kami juga evakuasi menggunakan perahu karet itu," kata Maulana, yang mengaku ada tiga keluarga lain yang belum ia ketahui mengungsi di mana.

    Untuk mengantisipasi mewabahnya penyakit diare dan penyakit kulit pada korban banjir, Kepala Dinas Kesehatan Maros, Dr Firman Jaya, mengaku telah menyiapkan obat minum di posko induk. "Kami juga telah menyiapkan obat-obatan di 14 puskesmas di Maros. Sampai saat ini belum ada warga yang mengeluh terserang penyakit kulit dan diare," kata Firman.

    JUMADI


     

     

    Lihat Juga