Kecelakaan Sukhoi Superjet-100 Disebabkan 3 Faktor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Sukhoi Co. terlihat di antara puing-puing pesawat Sukhoi Superjet-100 yang berserakan di tebing Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/5). AP

    Logo Sukhoi Co. terlihat di antara puing-puing pesawat Sukhoi Superjet-100 yang berserakan di tebing Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/5). AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) hari ini, Selasa, 18 Desember 2012, resmi mengumumkan hasil investigasi kecelakaan pesawat Sukhoi RRJ-95B dengan nomor registrasi 97004.

    Pesawat nahas itu mengalami kecelakaan di Gunung Salak, Jawa Barat, pada Mei 2012 lalu. "Tim investigasi menyimpulkan ada beberapa faktor yang berkontribusi," kata Ketua KNKT, Tatang Kurniadi, pada konferensi pers siang tadi.

    Faktor pertama adalah awak pesawat tidak menyadari kondisi pegunungan pada jalur yang dilalui. Hal tersebut mengakibatkan awak mengabaikan peringatan dari Terrain Avoidance and Warning System (TAWS). Faktor kedua adalah lemahnya sistem kontrol di Jakarta yang belum dilengkapi data batas tinggi minimum penerbangan.

    Sistem kontrol di Jakarta juga belum memiliki sistem peringatan untuk penerbangan di Gunung Salak.

    Faktor ketiga adalah ada distraksi yang mengalihkan perhatian pilot. Distraksi itu adalah percakapan berkepanjangan yang tidak terkait dengan penerbangan di kokpit Sukhoi. "Akibatnya, pilot tidak segera mengubah arah pesawat keluar dari orbit," kata Tatang.

    Ketua Tim Penyidik KNKT, Mardjono Siswosuwarno, menjelaskan tim investigasi menemukan fakta bahwa sempat ada diskusi antara pilot dan seorang tamu Sukhoi yang duduk di kokpit. "Ada diskusi antara tamu dan pilot tentang fuel consumption selama 38 detik," ujarnya.

    Kemudian, kata dia, sempat ada juga pembicaraan mengenai rencana pesawat untuk berbalik arah ke Bandara Halim Perdanakusumah. "Sempat ada pertanyaan dari kapten, "Kita mau pulang apa terus membuat orbit?"," kata dia. Pertanyaan itu diajukan sebanyak tiga kali. Karena pertanyaan diajukan ketika mengemudikan pesawat, diduga pilot mengambil arah yang tidak seharusnya.

    "Pilot minta heading 300 ke barat laut, tapi kemudian di sini pilot seperti menyelonong," kata Mardjono. Semua penumpang dan pilot pesawat itu tewas.

    Pihak Rusia juga mengadakan penyelidikan atas kecelakaan ini.

    MARIA YUNIAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.