Disebut Pengkhianat Bangsa, Habibie Center Santai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Presiden, BJ Habibie memerlihatkan medali Edward Warner Award usai upacara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, (10/8). Medali Edward Warner Award merupakan bukti Habibie terpilih sebagai ilmuwan dirgantara yang berjasa dalam pengembangan dan desain pesawat. ANTARA/Agus Bebeng

    Mantan Presiden, BJ Habibie memerlihatkan medali Edward Warner Award usai upacara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, (10/8). Medali Edward Warner Award merupakan bukti Habibie terpilih sebagai ilmuwan dirgantara yang berjasa dalam pengembangan dan desain pesawat. ANTARA/Agus Bebeng

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Habibie Center, Rahimah Abdulrahim, mengatakan bahwa lembaganya tak mempersoalkan tulisan bekas Menteri Penerangan Malaysia, Zainuddin Maidin, dalam surat kabar terbitan negara tersebut, Utusan Malaysia. Dalam tulisannya, Zainuddin menyatakan bekas presiden B.J. Habibie sebagai pengkhianat bangsa.

    "Zainuddin sudah mengatakan di tulisannya, kalau itu pendapat pribadinya. Jadi ya tidak usah direspons terlalu serius," kata Ima saat dihubungi, Senin, 10 Desember 2012. (Baca: Di Malaysia, Habibie Dianggap Pengkhianat Bangsa)

    Habibie Center, ujarnya, tidak akan memprotes tulisan Zainuddin karena setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya. Pun meski materi tulisan Zainuddin cenderung mendiskreditkan Habibie, Ima yakin bekas Menteri Riset dan Teknologi itu tak akan gusar.

    "Dia (Zainuddin) bebas berpendapat seperti itu. Bapak (Habibie) pada prinsipnya mengedepankan demokrasi, jadi sila saja jika ada yang berpendapat negatif soal dia. Lagipula kita mesti lihat rekam jejak Zainuddin," ujarnya.

    Dalam tajuk rencana Utusan Malaysia edisi Senin, 10 Desember 2012, Zainuddin menggambarkan Habibie sebagai sosok egois, memualkan, serta pengkhianat bangsa. Memulai tulisannya, Menteri Penerangan di era Abdullah Badawi ini mengulas kedatangan B.J. Habibie ke Malaysia beberapa hari lalu.

    "Presiden Indonesia ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang mencatatkan sejarah sebagai Presiden Indonesia paling tersingkat, tersingkir kerana mengkhianati negaranya, telah menjadi tamu kehormatan Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim baru-baru ini," tulis Zainudin di halaman 6 Utusan Malaysia.

    Tulisan selanjutnya, Zainudin lebih banyak menceritakan beberapa sisi negatif Habibie selama menjadi Presiden Indonesia, mulai peran Habibie yang menyebabkan Timor-Timur terlepas dari NKRI hingga perpecahan politik yang menyebabkan tumbuhnya 48 partai politik di Indonesia. Adapun hal yang paling memualkan dari Habibie, menurut Zainudin, adalah sifat egoisnya.

    Ia menceritakan bagaimana dirinya, pejabat tinggi Malaysia, dan Perdana Menteri Mahathir Muhammad kala itu harus menunggu sekitar dua jam karena Habibie terlambat datang untuk memberikan ceramah di salah satu perguruan tinggi di Malaysia. Setelah tiba, ternyata Habibie hanya menyampaikan pidato yang bertele-tele.

    Atas undangan Universiti Selangor, Habibie memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa cendekiawan dan tokoh politik pada 6 Desember 2012. Dalam ceramah berjudul "Habibie dan Transisi Indonesia ke Demokrasi", mantan Ketua ICMI ini menceritakan pengalaman Indonesia dalam menjaga keragaman. Menurut Habibie, pluralisme kepercayaan, suku, adat, dan keragaman lainnya merupakan kekuatan, bukan menjadi ancaman bangsa.

    ISMA SAVITRI

    Berita terpopuler lain:
    Gaya Mewah Djoko Susilo, Nunun, dan Miranda
    Kemenangan Zaki Ubah Peta Politik Keluarga Atut

    Mubarok Akui Partai Demokrat Semrawut

    Sutan Bhatoegana: Lepas dari Hambalang, Anas Melejit

    Penumpang Sriwijaya Air Boikot Pesawat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.