Boediono Cerita Sejarah Wayang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Boediono. ANTARA/Fanny Octavianus

    Boediono. ANTARA/Fanny Octavianus

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada yang menarik saat Wakil Presiden Boediono menyampaikan sambutannya dalam pembukaan Wayang Summit 2012 di Silang Monas Selatan, Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu malam, 24 November 2012.

    Selain menjelaskan manfaat wayang dalam membina dan membangun karakter bangsa, Boediono juga bercerita tentang sejarah wayang. "Di masa yang lalu, wayang adalah wujud dari upaya penggambaran nenek moyang yang menceritakan kehidupan manusia," kata Boediono di hadapan hadirin yang datang ke perhelatan wayang tersebut.

    Boediono menjelaskan, dahulu, nenek moyang bangsa Indonesia meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti memiliki roh. "Ada yang baik dan jahat," ujarnya.

    Jadi, saat itu, atau sekitar tahun 1.500 Sebelum Masehi, menurut Boediono, dibuatlah wayang dalam bentuk gambar ilusi bayangan atau dalam bahasa Jawa disebut "Wewayangan".

    "Agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, kemudian wayangan tersebut disembah dan diberi sesajen," ucap Pak Boed, panggilan Boediono.

    Namun, setelah agama-agama besar masuk ke Indonesia, wayang berubah peran menjadi alat peragaan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama. "Sehingga muncullah banyak lakon yang disesuaikan dengan konteks ajarannya, yang mengusung dan bermetamorfosis dengan realita zamannya."

    Menurut Boediono, di era modern ini, wayang merupakan sebuah kesenian dan warisan budaya klasik yang mengakar turun-temurun.

    Wayang, kata Boediono, berasal dari kata "wayangan", yang berarti sumber pengilhaman untuk menggambarkan wujud tokoh dan cerita yang terlihat jelas dalam hari si penggambar.

    Wayang juga bisa diartikan sebagai bayangan atau cermin. "Karena dalam kesenian wayang terdapat beberapa pencerminan karakter manusia yang sangat dalam dari tokoh-tokoh yang diusung para dalang," ucap dia.

    Karena itu, menurut Boediono, wayang adalah media efektif yang dapat memerankan sekaligus beberapa fungsi sosial.

    Antara lain, sebagai sarana kesenian, sarana hiburan santai, sarana pernyataan jati diri, sarana pembauran, sarana pendidikan, sarana pemulihan ketertiban, serta sarana terapi atau penyembuhan. "Dan sarana simbolik yang mengandung kekuatan magis atau ritual," kata Boediono.

    PRIHANDOKO

    Berita lain:
    Video Jokowi Ahok Ditonton 5 Juta Orang

    Pergub Parkir Disomasi David, Jokowi Malah Senang

    Plafon Perpustakaan UI Ambruk, Seperti Bom

    Rieke, Alhamdulillah Saya Tidak ''Oon'' Beneran

    Kaskus Pesta Ulang Tahun, Senayan Penuh Gan!


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.