107 Warga Banyumas Meninggal Terserang Malaria

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Banyumas:Wabah malaria yang menyerang ribuan warga pedesaan di lima kecamatan Kabupaten Banyumas, ternyata telah menewaskan 107 penderita. Angka ini hasil temuan dan rekapitulasi data dari DPRD Banyumas. Korban meninggal sejak Agustus 2001 hingga 5 Januari kemarin. "Kami merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk segera menangani serius wabah malaria ini. Warga sudah betul-betul camas karena setiap hari terus bertambah jumlah warga yang menggigil, panas dingin, seperti gejala penderita malaria. Hitungan kami, sampai saat ini penderita mencapai lebih dari sebelas ribu orang," kata Ketua Komisi E, Musaddad Bikri Nur, usai rapat khusus tentang malaria di DPRD Banyumas, Senin (7/1). Sementara itu, Dinas Kesehatan dan Kesejahtaraan Sosial Banyumas dan tim kesehatan Puskesmas Sumpiuh, menggelar pengobatan massal di Desa Ketanda. Pengobatan gratis digelar di Dusun Jatisari dan Sumampir, dengan melibatkan sembilan dokter dan paramedis. Tapi, kegiatan di Jatisari gagal karena hujan deras. Dari 250 kepala keluarga, hanya dua orang yang diperiksa dan mereka dinyatakan mengidap malaria. Di Sumampir, dari 261 kepala keluarga yang diperiksa, 23 orang dinyatakan menderita malaria klinis. Bupati Aris Setiono mengakui wabah malaria di Banyumas merupakan masalah serius. Semua jajaran kesehatan telah dikerahkan ke desa-desa dan pedusunan. "Kami sudah berupaya maksimal,” kata Aris. (Syaiful Amin - Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.