Sopir Abu Bakar Ba'asyir Ditanya Soal Umar Al-Faruq

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Solo:Solichin, 50 tahun, salah seorang pengawal setia Amir Majelis Mujahidin Abu Bakar Ba'asyir, menjalani pemeriksaan selama lima jam di Mapolsek Grogol, Sukoharjo, Selasa (7/1). Selain ditanya soal proses pembuatan kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK) dan paspor Ba'asyir, dia juga ditanya soal pengetahuannya mengenai hubungan Ba'asyir dengan Umar Al-Faruq, Hambali, Kudama alias Imam Samudra, dan Muchlas alias Ali Ghufron. "Saya sempat kaget dengan pertanyaan seperti apakah Ba'asyir pernah memperlihatkan atau mengetahui sendiri soal dokumen yang menyangkut diri Umar Al-Faruq, Hambali, Kudama, dan Muchlas alias Ali Ghufron. Kelihatan sekali kalau penyidik hanya tinggal membaca pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya. Kalau tidak salah tadi ada 33 pertanyaan," ujar Solichin kepada wartawan seusai diperiksa. Terhadap pertanyaan yang tidak dia duga tersebut, dengan tegas dia mengatakan tidak pernah melihat sama sekali. Dia juga menegaskan bahwa dirinya tidak mengenal orang-orang yang disebut penyidik tersebut. "Saya tidak pernah tahu. Sama sekali tidak tahu," kata dia. Menurut anggota Majelis Mujahidin di biro transportasi ini, penyidik juga menanyakan soal proses pembuatan KTP dan juga proses perkenalannya dengan Ba'asyir. Laki-laki yang sering dapat dijumpai bersama Ba'asyir ini mengaku telah menjelaskan semua apa yang dia ketahui. Kepada penyidik, Solicihin mengaku menjelaskan dengan terus terang kronologi dan proses perkenalannya dengan Ba'asyir. Menurut pria kelahiran Jakarta ini, dirinya mengenal Ba'asyir sewaktu kongres Majelis Mujahidin 1999 di Yogyakarta. "Sewaktu saya berkenalan saya langsung menyanggupkan diri untuk menjadi sopir beliau," katanya. Sementara terkait pembuatan KTP untuk Ba'asyir, ia menjelaskan, dirinya memang diminta bantuan untuk menguruskan menghidupkan kembali KTP Ba'asyir dan isterinya, Ny. Aisyah Ba'asyir yang kedaluwarsa sejak 1984. Diakuinya, dalam pembuatan KTP sempat timbul masalah, karena berkasnya dianggap tidak lengkap sehingga kemudian Ba'asyir sendiri terpaksa datang ke kantor kelurahan Cemani, untuk membuat pernyataan bahwa dirinya tidak pernah menyatakan pindah dari kampung Ngruki. Mengenai soal dokumen keimigrasian yang dimiliki Ba'asyir, dia juga menegaskan bahwa dirinya sama sekali belum pernah melihat atau mengetahui. "Saya malah belum pernah tahu, apakah ustadz Abu itu memiliki paspor atau tidak, ujar dia lagi. (Imron Rosyid-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Suara Jokowi - Ma'ruf dan Prabowo - Sandiaga di Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum mencatat pasangan Jokowi - Ma'ruf menang di 21 provinsi, sedangkan Prabowo - Sandiaga unggul di 13 provinsi saat Pilpres 2019.