Jamsostek Mengaku Pernah Diperas Anggota Dewan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Pidato Kenegaraan yang disampaikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam sidang bersama DPR dan DPD, di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, 16-8, 2012. Pidato Kenegaraan tersebut untuk memperingati HUT RI ke 67. TEMPO/Imam Sukamto

    Suasana Pidato Kenegaraan yang disampaikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam sidang bersama DPR dan DPD, di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, 16-8, 2012. Pidato Kenegaraan tersebut untuk memperingati HUT RI ke 67. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Direktur Utama PT Jamsostek (Persero), Hotbonar Sinaga, menyatakan pernah diperas anggota Dewan Perwakilan Rakyat berinisial MN dari Fraksi Demokrat dan ETS dari Fraksi PDI Perjuangan pada 2010. Pemerasan tersebut terkait dengan kegiatan investasi perusahaan pelat merah itu di Bank Persyarikatan Indonesia (kini Bank Syariah Bukopin). “Mereka menuduh ada kerugian negara,” ujarnya.

    Hotbonar menyatakan, tuduhan anggota Dewan itu tidak benar karena yang terjadi pada saham Jamsostek di Bank Persyarikatan Indonesia itu adalah dilusi (pengurangan persentase pemilikan saham) dari 20 persen menjadi 9,3 persen. Penurunan tersebut terjadi karena Jamsostek tak menambah modalnya di bank itu. "Kejaksaan juga sudah memanggil saya tiga kali, tapi memang tidak ada kerugian investasi di situ,” katanya.

    Hotbonar mengaku sudah menjelaskan duduk persoalannya kepada MN dan ETS. Namun keduanya malah mengancam akan membentuk panitia khusus untuk menyelidiki investasi Jamsostek itu. Bahkan, sesudah rapat dengar pendapat pada Februari 2010, dia didatangi ETS. "Minta ketemuan di luar bersama beberapa anggota Komisi IX DPR, termasuk MN (ada di situ).”

    Dalam pertemuan itu, Hotbonar menyanggupi memberikan Rp 100 juta dari kocek pribadi. ETS langsung menolaknya. "Hah, seratus juta? Dikit amat? Coba bayangin, jumlah anggota komisi itu ada 40 orang. Kalau tiap orang 50 juta rupiah saja, sudah 2 miliar rupiah," ujar Hotbonar, menirukan ucapan ETS. 

    Hotbonar mengaku sempat meminta nasihat kepada mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas. Hal ini dibenarkan Erry. "Dia pernah bercerita ke saya, kemudian saya katakan jangan dikasih karena nanti bisa dianggap suap," kata dia kepada Tempo kemarin. 

    Tempo menyambangi rumah ETS di Cilandak Timur, Jakarta Selatan, untuk meminta konfirmasi soal tudingan ini. Namun penjaga perumahan itu mengatakan ETS sudah tak di sana. “Sekarang di Bumi Serpong Damai.” MN juga tak bisa dimintai konfirmasi. Didatangi ke rumahnya di Pekanbaru, Riau, ia tak ada. Telepon seluler yang nomornya dimiliki Tempo tak aktif.

    Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo menyatakan ETS sudah bukan anggota fraksi karena sudah menjalani pergantian antarwaktu. “Pergantiannya tidak ada hubungannya dengan Jamsostek,” ujarnya kemarin. 

    Ketua Fraksi Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf enggan menanggapi pernyataan Hotbonar. “Banyak memakan waktu jika membahas terus-menerus setiap ada nama yang disebutkan,” ujarnya.

    ALI NUR YASIN | ANANDA PUTRI | FIONA PUTRI HASYIM | SUNDARI

    Terpopuler:
    Bedanya Jokowi dengan Fauzi di Mata Kementerian PU

    Upeti DPR, Bambang Soesatyo Tanya BS ke Dahlan 

    Pemicu Bentrokan Lampung Versi Penduduk

    Suami Gugat Istri karena Lahirkan Bayi Tak Rupawan 

    Angelina Sondakh Akui Pertemuan di Kemenpora


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.