Bagaimana Para Deklarator Sumpah Pemuda Ngekos?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung tengah memperhatikan foto-foto di museum Sumpah pemuda, Jakarta, Kamis (27/10).  Kegiatan tersebut dilakukan guna mempersiapkan peringatan hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari Jumat 28 Oktober 2011 ini. TEMPO/Tony Hartawan

    Pengunjung tengah memperhatikan foto-foto di museum Sumpah pemuda, Jakarta, Kamis (27/10). Kegiatan tersebut dilakukan guna mempersiapkan peringatan hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari Jumat 28 Oktober 2011 ini. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta--Bangunan di Jalan Kramat Raya Nomor 106 menjadi saksi bisu dibacakannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Gedung ini merupakan pemondokan untuk pelajar dan mahasiswa waktu itu. Bagaimana kehidupan kos para pemuda saat itu?

    Dalam Buku Panduan Museum Sumpah Pemuda, gedung Kramat 106 menjadi tempat tinggal pelajar yang tergabung dalam Jong Java sejak 1925. “Mereka kebanyakan pelajar Sekolah Pendidikan Dokter Hindia alias Stovia,” seperti dikutip artikel Jejak Samar Bapak Kos Dokter Politik dari Timur di majalah Tempo, 2 November 2008.

    Tercatat Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil, atau Assaat dt Moeda, pernah tinggal di sana.

    Para pelajar menyewa gedung itu dengan tarif 12,5 gulden per orang setiap bulan, atau setara dengan 40 liter beras waktu itu. Mereka memiliki pekerja yang mengurus rumah yang dikenal dengan nama Bang Salim.

    “Tamu yang menginap tidak dikenai bayaran, tapi harus mengusahakan makanannya sendiri,” kata Dr Raden Soeharto, kostjongen dan peserta Sumpah Pemuda dalam buku Bunga Rampai, 50 Tahun Soempah Pemoeda.

    Aktivis Jong Java menyewa bangunan 460 meter persegi ini karena kontrakan sebelumnya di Kwitang terlalu sempit untuk menampung kegiatan mereka. Anggota Jong Java dan mahasiswa lainnya menyebut gedung ini Langen Siswo.

    Sejak 1926, penghuni gedung ini makin beragam dari berbagai daerah. Pun kegiatannya. Selain kesenian, mahasiswa di gedung ini aktif dalam kepanduan dan olahraga.

    Penghuni Kramat 106 juga sering berdiskusi soal konsep persatuan nasional. Gedung ini pun menjadi markas Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), yang berdiri pada September 1926, usai kongres pemuda pertama. Penghuni kontrakan, dengan payung PPPI, sering mengundang tokoh, seperti Bung Karno, untuk berdiskusi. Tema perbincangan misalnya mencari bentuk negara ideal bagi Indonesia.

    Di gedung ini juga muncul majalah Indonesia Raya, yang dikelola PPPI. Karena sering dipakai kegiatan pemuda yang sifatnya nasional, para penghuni menamakan gedung ini Indonesische Clubhuis, tempat resmi pertemuan pemuda nasional. Sejak 1927, mereka memasang papan nama gedung itu di depan. Padahal Gubernur Jenderal H.J. de Graff sedang menjalankan politik tangan besi.

    Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia mendeklarasikan Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II di bangunan yang terletak di Jalan Kramat Raya Nomor 106 ini.

    Kegiatan pemuda dialihkan ke Jalan Kramat 156 setelah para penghuni Kramat 106 tidak melanjutkan sewanya pada 1934.

    PDAT| EVAN| KODRAT

    Baca juga:

    Edisi Khusus Tempo.co Sumpah Pemuda
    Hatta, Motor Perjuangan Pemuda di Belanda

    Hatta dan Kata Indonesia

    Wawancara A. Simanjuntak, Pengarang Bangun Pemudi Pemuda
    Naskah Sumpah Pemuda Tak Orisinal?

    Kenapa Sukarno Ubah Sumpah Pemuda?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.